Membaca Bali dari Candi Sukuh


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Mencari wajah Bali
pada batu-batu purba di Jawa.

 

BANYAK ahli seni yang menyebut wayang kulit Bali memiliki bentuk yang lebih sederhana dibandingkan dengan wayang kulit Jawa yang lebih rumit dan memiliki stilisasi bentuk yang mengarah ke perkembangan dari bentuk sederhana. Mengapa hal ini bisa terjadi, padahal wayang kulit Bali juga memiliki akar pada wayang kulit Jawa (pada masa yang lebih kuno)? Jawabannya tentu saja perkembangan. Namun perkembangan yang macam apa? Beberapa argumen mengatakan bahwa wayang kulit Jawa mengalami perkembangan yang pesat dan kompleks, baik secara bentuk, lakon dan filsafatnya pada masa pengaruh Islam. Sedangkan wayang kulit Bali yang tetap berada di bawah kultur Hinduisme, tidak mengalami perkembangan sebagaimana sejawatnya di Jawa. Saya sendiri baru saja mendapat jawaban (yang masih kabur) tentang perbedaan ini, setelah berkunjung ke Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh: Kembali ke Jiwa “Primitif” yang “Kasar”
Jika kita melihat bentuk umum candi-candi di Jawa, maka ketika melihat Candi Sukuh sebagai candi Hindu, kita akan disuguhi bentuk candi yang “aneh”. Seakan ia tidak bisa dilacak dari arsitektur kebudayaan Hindu. Bentuknya yang berupa piramida, lebih mengingatkan kita pada kebudayaan Mesir, Meksiko, Peru atau Polynesia.

Candi Sukuh diperkirakan dibangun antara tahun 1416 dan 1459, pada masa akhir kejayaan Hinduisme di Jawa. Yang menarik, candi ini justru dibangun jauh dari pusat peradaban Hindu ketika itu, yaitu Majapahit di Jawa Timur. Ia malah lebih dekat dengan pusat Hinduisme sebelumnya, yaitu Mataram Lama di Jawa Tengah, pada sekitar abad ke-9. Dugaan yang beredar adalah bahwa candi ini dibangun oleh orang-orang yang menyingkir dari Majapahit karena kerajaan itu telah dikalahkan oleh Demak. Kita tahu bahwa ketika itu pula ada eksodus orang-orang Majapahit ke Bali, yang mana kini menjadi nenek moyang sebagian besar orang Bali.

Secara garis besar, Candi Sukuh dilingkupi dengan simbol-simbol besar lingga-yoni. Di lantai gerbang masuk utama, lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan) digambarkan dengan gamblang dan cenderung bergaya realis. Pada beberapa relief dan arca, alat kelamin (terutama laki-laki) digambarkan dengan vulgar dan cenderung dibesar-besarkan. Simbol lingga-yoni sering dibaca sebagai simbol kesuburan. Saya jadi teringat sebuah relief yang menggambarkan persenggamaan yang terpahat di Pura Maduwe Karang, Singaraja.

Dari relief-relief yang ada di Candi Sukuh, terbaca tiga cerita besar, yaitu “Garudeya”, “Sudamala” dan “Dewaruci”. “Garudeya” bercerita tentang burung garuda yang menyelamatkan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan dengan mencuri tirta amerta dari para dewa. Sadewa meruwat Dewi Durga hingga kembali menjadi Dewi Uma dalam cerita “Sudamala”. Dan Bima mencari tirta amerta di dasar samudera, hingga ia menemukan “dirinya sendiri”, yaitu Dewaruci. Dari cerita ini muncul dugaan besar bahwa Candi Sukuh merupakan candi yang digunakan untuk ritual-ritual ruwatan atau penyucian.

Dari segi arsitektural, Candi Sukuh diduga dibangun dengan menyalahi pola dari kitab tentang arsitektur Hindu, yaitu Wastu Widya. Dalam kitab ini konon dijelaskan tentang bentuk candi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengah, yang merupakan wilayah paling suci. Argumen yang kemudian muncul adalah, candi ini dibangun pada masa pudarnya kejayaan Hindu di Jawa, sehingga bentuk-bentuk yang lebih mengemuka kemudian justru dari kebudayaan yang lebih kuno dan arkaik, yaitu masa megalitik.

Argumen ini dapat kita buktikan jika melihat bentuk-bentuk yang tergambar pada arca dan relief di kompleks candi. Figur-figur yang tergambar dari pahatan batu itu terlihat lebih “kasar” dan “primitif” dibandingkan dengan berbagai figur yang terpahat pada batu-batu candi yang dibangun berabad-abad sebelumnya, seperti Prambanan dan Borobudur. Adakah ini menunjukkan bahwa Candi Sukuh merupakan sebuah refleksi kembalinya jiwa “primitif” manusia setelah mengalami masa kejayaan?

Kuatnya pengaruh budaya megalitik juga terlihat pada jalan batu yang memanjang lurus dari gerbang utama hingga menuju pintu masuk candi. Jalan batu seperti ini menurut para ahli sangat jarang ditemukan pada candi-candi umumnya di Jawa. Model jalan seperti ini hanya bisa ditemukan pada bangunan-bangunan suci prasejarah megalitik. Di Bali, jalan batu seperti ini terdapat di Desa Trunyan. Orang Trunyan menyebutnya dengan nama Jalan Batu Gede, yang menurut legenda dibangun oleh Kebo Iwo.

Namun, “keanehan” yang muncul ketika melihat Candi Sukuh barangkali bisa ditepis ketika kita naik ke puncaknya yang berupa dataran batu. Di tengah-tengah lantai batu itu bisa kita lihat batu berbentuk segi empat yang agaknya merupakan sendi, dasar atau tempat meletakkan atau menancapkan tiang kayu suatu bangunan. Dari sini muncul dugaan bahwa di atas piramida itu barangkali ada lagi bangunan tertentu dari bahan yang tidak tahan usia, seperti dari kayu, yang agaknya telah hancur. Jika benar demikian, maka candi yang berbentuk piramida sekarang ini hanyalah sebuah dasar yang lebih mirip punden berundak, prototipe dari candi-candi di Jawa. Hal ini barangkali mirip dengan bangunan palinggih di Bali, di mana bagian baturan-nya dibuat dari batu atau bata, sedangkan bagian palinggih atasnya terbuat dari kayu.

Bali Kini di Candi Sukuh
Jika benar Candi Sukuh dibangun oleh orang-orang yang eksodus dari Majapahit setelah keruntuhan kerajaan itu, maka mereka adalah sejawat dengan orang-orang yang juga meletakkan pengaruh budaya Majapahit di Bali. Ilustrasi saya tentang perbandingan wayang kulit Jawa dan Bali di awal tulisan ini barangkali bisa dijadikan argumen.

Pada relief-relief di Candi Sukuh ditemukan figur-figur yang sangat mirip dengan bentuk tokoh Tualen dan Merdah, keduanya adalah tokoh parekan atau punakawan dalam wayang kulit Bali. Figur-figur ini ditemukan bukan hanya satu-dua, namun banyak sekali. Jika kita menyimak kisah yang digambarkan relief, tampak jelas bahwa figur-figur ini dekat dengan peran parekan, yaitu pengiring tokoh utama. Figur-figur semacam ini tidak ditemukan dalam wayang kulit Jawa. Tokoh Semar dalam wayang kulit Jawa yang sering diidentifikasi sebagai Tualen dalam wayang kulit Bali, pada dasarnya tak memiliki kemiripan bentuk.

Candi Sukuh juga banyak menghadirkan figur Bima. Salah satu dugaan mengatakan bahwa candi ini memang dibangun untuk memuja Bima. Figur-figur Bima yang digambarkan pahatan batu di sini lebih dekat dengan bentuk tokoh Bima dalam wayang kulit Bali dibandingkan dengan wayang kulit Jawa. Bima dalam wayang kulit Bali digambarkan cenderung kecil dan proporsional. Sedangkan dalam wayang kulit Jawa, Bima berbentuk sangat tinggi, dengan tangan yang panjang. Selain itu, ada pula sebuah relief kepala raksasa yang bentuknya mirip dengan Barong Ket di Bali.

Candi Sukuh sebagai salah satu produk budaya Hindu yang unik barangkali bisa dijadikan salah satu refleksi untuk membaca Bali kini. Dari sini kita bisa membaca sejauh mana sebenarnya kita telah bergerak dan sejauh mana kita
melenceng dari jalan yang dirintis oleh para leluhur kita.

Jogja, Juli 2010

Tradisi Kontemporer


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Kini saatnya Bali meng-cancel
pendikotomian tradisi dengan modern.

 
INI adalah wacana yang terlalu sering diulang. Tentang tradisi di masa mutakhir. Dan tulisan ini mengulangnya lagi. Tapi bagi saya tak mengapa. Wacana semacam ini memang memerlukan pengulangan demi pengulangan. Per-ingat-an demi per-ingat-an. Sebagaimana sebuah tradisi yang adalah bentukan dari pengulangan yang terus-menerus, hingga mendapat pengakuan secara komunal, mapan dan memiliki pakemnya tersendiri. Mudah-mudahan sebagaimana tradisi pula, pengulangan demi pengulangan wacana semacam ini menjadi terbiasa, lalu “dilupakan”, karena tanpa disadari telah dijalani.

Walaupun tradisi adalah masalah pelakonan, bukan wacana yang diverbalkan, namun bukan salah jika tradisi diterjemahkan ke dalam bahasa verbal. Sering kali para pelakon tradisi gagap dalam menjelaskan tradisinya, misal kepada generasi selanjutnya dari tradisi tersebut. Ini dapat dipahami sebab pelakonan adalah cara paling jitu dalam proses regenerasi tradisi.


Contoh kasus di atas saya temui ketika seorang gadis kelahiran Denpasar bercerita pada saya tentang orangtuanya yang tidak bisa menjelaskan apa makna dari banten yang dibuat dan di-atur-kannya saban hari. Barangkali karena pengaruh pendidikan yang selalu menuntut kejelasan (verbal!) tentang sesuatu, si gadis ingin tahu seperti apa tradisi yang akan diwariskan padanya. Sebelum memutuskan diri untuk menceburkan diri dalam tradisi itu, barangkali ia menanam kecurigaan jangan-jangan itu adalah tradisi yang keliru.

Apa yang dialami gadis itu bukan sesuatu yang aneh dalam konteks tradisi Bali di masa mutakhir. Sejarah telah membeberkan bukti bahwa tradisi Bali mencapai maknanya dalam pelakonan, bukan pemverbalan, sehingga sering kali tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan diri secara verbal. Pernyataan ini bukan menampik kenyataan bahwa sebagian dari tradisi Bali adalah tradisi lisan yang sangat dekat dengan verbalitas. Namun verbalitas dalam tradisi lisan merupakan bagian dari pelakonan, bukan verbalitas dalam hal menerjemahkan atau mewacanakan perihal tradisi itu sendiri.

Sistem transmisi tradisi kepada generasi selanjutnya dengan cara pelakonan akan mengantarkan generasi baru itu pada pemahaman demi pemahaman secara otomatis. Dengan kata lain, pelakonan akan dengan sendirinya memberikan penjelasan, menerjemahkan, memverbalkan tradisi itu sendiri kepada generasi baru.

Meng-“cancel” Tradisi vs Modern
Masalah yang selama ini disebut sebagai pelestarian tradisi atau pewarisan tradisi yang sering mengkhawatirkan banyak pihak sebenarnya adalah masalah yang di atas disebut sebagai transmisi tradisi. Dalam konteks mutakhir, ketika masalah transmisi tradisi ini megalami ketersendatan, walaupun di sisi lain generasi demi generasi baru terus lahir, maka sering kali modernitaslah yang dituduh sebagai biang keladi dari terganggunya proses transmisi tersebut. Tidak terkecuali di Bali. Berbagai konflik dan polemik yang terjadi dan berkatian dengan tradisi juga selalu memunculkan pemikiran yang mengkonfrontasikan tradisi dengan modern. Hal ini kemudian menimbulkan sikap yang mendikotomikan tradisi dengan modern. Keduanya ditaruh pada dua kutub yang berbeda dan berlawanan.

Pemikiran semacam itu mesti ditinjau ulang. Walaupun ada kebenaran semacam itu, namun perlu dilihat dulu lebih jauh ke belakang, di mana modernitas belum terlalu kuat mempengaruhi kehidupan Bali. Dari cara penilikan seperti ini akan terlihat bahwa sebenarnya, tanpa dikonfrontasikan dengan modernitas sekalipun, tradisi telah melahirkan berbagai konflik dan polemik yang serupa. Tradisi memiliki potensi konflik dan mampu meledakkan konflik itu tanpa adanya gesekan elemen di luar tradisi itu sendiri.

Kini saatnya Bali untuk sejenak meng-cancel pendikotomian tradisi dengan modern. Tradisi mesti mutakhir mesti dilihat sebagai sebuah kebudayaan kontemporer yang menghidupi dan dihidupi oleh manusia Bali mutakhir. Dengan kata lain, segala elemen yang selama ini diklaim sebagai pengaruh luar mesti dipandang sebagai bagian dari tradisi itu sendiri. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memposisikan “pengaruh luar” itu sebagai bagian dari laju proses pembentukan tradisi Bali. Saatnya mereka diposisikan bukan sebagai “orang luar” atau malah foreigner yang mesti selalu dicurigai atau dikonfrontasikan dengan pribumi.

Tradisi yang Selalu Baru
Di Bali saat ini memang tengah berlangsung gejala fundamentalisme yang cenderung kolot. Sering kali gejala ini muncul tanpa dasar yang jelas dan terlihat tidak memiliki sikap yang reflektif terhadap sejarah. Misalnya, melihat kecenderungan perkembangan pakaian sembahyang ke pura yang mengalami banyak modifikasi sesuai dengan perkembangan mode global, ada beberapa pihak yang menyarankan agar pakaian yang telah dimodifikasi itu jangan dipakai untuk ke pura. Manusia Hindu Bali agar kembali pada pakaian ke pura yang “semula”, yang belum termodifikasi.

Pakaian ke pura macam apa yang dimaksud sebagai “yang belum termodifikasi”? Apakah pakaian ke pura semacam ini pernah ada?

Saran seperti di atas merupakan proyeksi dari sebuah pandangan yang tidak reflektif pada sejarah masa lalu pembentukan tradisi Bali. Ini menunjukkan bahwa Bali seakan menampik segala macam pengaruh budaya, dan dengan sombong berikrar bahwa tradisi Bali adalah suatu bentuk kebudayaan yang asli, tanpa polesan dari kebudayaan lain mana pun.

Sejarah telah menunjukkan bahwa Bali merupakan sulaman dari benang-benang budaya yang multikultural. Yang nyata saja bisa kita lihat di dalamnya terdapat benang-benang dari Cina, India, bahkan Timur Tengah. Dan sekarang adalah Barat (modern). Jika kita sepakat bahwa tradisi Bali adalah kebudayaan Bali sebelum mendapat pengaruh modern, maka menolak pengaruh modern sebagai elemen pembentuk dalam proses pertumbuhan tradisi Bali adalah mementahkan kesepakatan itu sendiri. Maka Bali tumbuh dari kemunafikan demi kemunafikan.

Orang yang berpandangan demikian seakan tidak bisa menerima keniscayaan zaman yang mengatakan bahwa tidak ada tradisi yang tidak berubah. Tradisi itu selalu diperbaharui, sebab sebuah tradisi yang unggul adalah tradisi yang mampu mengaktualisasikan kehidupan manusia-manusianya di tengah pergerakan zaman. Tradisi adalah sesuatu yang selalu kontemporer. 


Jogja, Januari 2009

Dan Drama Gong Itu ...


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Apakah Bali memang tak lagi
membutuhkan drama gong?

SALAH satu keunggulan sebuah kebudayaan adalah kemampuannya untuk berubah. Untuk berubah, sebuah kebudayaan harus meraih sesuatu. Untuk berubah, sebuah kebudayaan harus rela kehilangan sesuatu. Dan kehilangan harus dicatat. Karena keunggulan lain dari sebuah kebudayaan adalah kemampuan dan kebetahannya untuk mencatat kehilangan demi kehilangan. Lalu untuk tidak melupakannya.

Tapi kehilangan bukanlah dosa. Barangkali bukan pula kesalahan. Hanya sedikit kekeliruan. Untuk menyenangkan hati, kita sebut saja sebagai keniscayaan zaman.

Ini adalah secarik catatan tentang kehilangan dari sebuah kebudayaan bernama Bali. Ya, walaupun belum sepenuhnya, Bali tengah menghadapi tanda-tanda akan kehilangan drama gong, sebuah bentuk teater yang belum terlalu lama kelahirannya, dibanding dengan bentuk-bentuk teater tradisi Bali pendahulunya. Kejayaannya di masa 1980-an hingga pertengahan 1990-an hanya “puncak kesementaraan”, di mana salah satu bentuknya mencapai kemapanan. Belum ada bentuk-bentuk baru, hasil upgrade baru, yang muncul, apalagi mapan. Pengulangan demi pengulangan yang dilakukan membosankan bagi penonton dan bagi orang-orang drama gong sendiri.

Makanya, siapa yang mau menonton drama gong sekarang? Bahkan di kamarnya sendiri, orang telah terlalu berlimpah dengan hiburan. Pun, siapa yang mau memainkan drama gong lagi? Petruk dan Dolar sudah main lawakan secara idependen di panggung lawak dan televisi, lepas dari komunitas drama gong yang lama membesarkannya. Mereka juga sudah ditarik industri hiburan televisi untuk main lawakan sepintas lalu atau berperan dalam video iklan produk-produk komersial. Beberapa pemain lain terdengar mencoba peruntungan di dunia politik praktis.

Apakah Bali memang tak lagi membutuhkan drama gong?

Selera Massa yang Dipermainkan
Dengan berbekal teori evolusi budaya, Koes Yuliadi (2005) mencatat masa kejayaan drama gong sebagai sebuah bentuk produk seni pertunjukan yang lebih mewakili kegelisahan, pandangan dan selera masyarakat. Menurutnya, drama gong mengambil hati masyarakat dan kemudian memudarkan popularitas arja dan topeng. Sebelumnya, topeng pernah menggeser posisi popoler gambuh di hati masyarakat.

Dan kini drama gong digempur dari segala lini oleh sebuah kekuatan besar yang menjelma di sekian banyak tubuh agen perubahan kebudayaan. Yang digempur sebenarnya bukan drama gong secara langsung, namun massa dengan tawaran-tawaran citra yang menggugah selera, merangsang pencapaian sebentuk gaya hidup baru. Drama gong lalu ditinggalkan massa, ditinggalkan penonton dan calon-calon penontonnya.

Di tengah arus teknologi informasi yang demikian cepat sekarang ini, selera massa memang tengah dipermainkan. Massa dijejali oleh citra demi citra yang selalu memunculkan keheranan dan prestise. Setelah televisi, massa diberikan VCD player, lalu handphone, lalu .... Seakan tak diberikan kesempatan untuk bernapas, massa disugesti untuk meninggalkan apa yang baru saja diraihnya untuk menuju ke peraihan berikutnya yang lebih bergengsi.

Dalam hal permainan yang membuahkan peninggalan terhadap berbagai produk budaya lama tentu saja bukan hanya dialami oleh drama gong. Akan banyak sekali nama yang mengisi daftar peninggalan ini.

Ada satu contoh kasus menarik pada drama gong di tengah permainan yang demikian. Sebuah komunitas drama gong dari Banyuning, Singaraja, menawarkan sebuah bentuk baru dalam drama gong dengan memasukkan lebih banyak konsep-konsep teater modern ke dalamnya. Namun sepertinya bentuk ini hanya mampu mengisi event-event festival semacam PKB. Ia tidak terlalu berhasil mencapai puncaknya di masyarakat yang menanggapnya secara terbuka tanpa embel-embel festival.

Televisi Lokal dan Pemerintah
Dulu salah satu lahan hidup drama gong adalah TVRI Denpasar. Kini ketika teknologi informasi jauh lebih canggih dan beragam dibanding sekadar TVRI Denpasar, drama gong tak ambil bagian di dalamnya. Drama gong yang salah satunya memegang peran sebagai penghibur masyarakat tak cekatan meng-upgrade diri, tak mampu mengimbangi kekuatan super cepat teknologi informasi. Yang sedikit bisa mengakomodasi – walaupun lebih tampak melayani – kekuatan itu adalah personal-personal dari komunitas drama gong, seperti Petruk, Dolar, Dadap, Mang Apel dan lainnya, yang dulu memang berperan sebagai parekan, dengan jasa lawakan atau humornya di televisi lokal. Bahkan, orang-orang yang dulu memerankan tokoh-tokoh serius dan keras semacam Patih Agung dan Raja juga ikut ambil bagian di panggung lawakan independen.

Televisi-televisi lokal di Bali yang mengibarkan misi atau paling tidak slogan pemeliharaan kebudayaan Bali, baik itu ajeg Bali atau apalah namanya, ternyata lebih melayani permainan yang ditawarkan arus besar industri hiburan televisi di Indonesia – yang sebenarnya juga banyak mengadopsi dan meniru acara telivisi luar. Memproduksi sinetron, komedi situasi, lawakan studio, acara kriminal, klenik dan infotainment dipandang lebih menjanjikan secara pasar.

Memang, televisi lokal tengah bergerak mengikuti selera massa yang notabene telah berubah karena pengaruh permainan besar global. Namun televisi lokal belum menampakkan usaha yang kuat untuk mempengaruhi selera massa ke arah yang lain. Sekali lagi, televisi lokal lebih memilih untuk masuk ke dalam permainan itu, dengan kata lain ikut dipermainkan. Ini barangkali masalah ketakberdayaan televisi lokal. Tapi yang lebih tampak adalah usaha untuk ikut menjadi pemain, memainkan permainan demi permainan.

Dulu ketika masa kejayaan drama gong terus menanjak, pemerintah memang punya andil di dalamnya. Berbagai lomba, baik antardesa atau kabupaten menjadi salah satu perangsang kemunculan komunitas-komunitas drama gong. Walaupun memang banyak yang lahir hanya untuk meladeni lomba-lomba tersebut, namun banyak jebolan lomba ini yang mampu mencapai puncak artistik dan pencapaian penontonnya.

Ketika andil pemerintah surut dan aksi artistik komunitas drama gong pun surut, maka dengan mudah hipotesis diambil: pemerintah punya peran yang cukup besar dalam perkembangan drma gong di Bali.

Namun, barangkali akan terlalu nyinyir jika masalah dilempar ke sana-sini. Yang dibutuhkan drama gong sekarang adalah orang-orang cerdas dan kreatif. Dan mau kerja.


Jogja, Januari 2009

Tubuh Orang Hindu Bali dalam Laku Seni dan Laku Upacara


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Jujurkah tubuh orang Hindu Bali mutakhir
dalam melakoni seni dan upacaranya?

SAYA baru saja mengikuti sebuah diskusi dan menonton video dokumenter tentang workshop seorang penari Jepang bernama Min Tanaka. Salah satu metode yang dilontarkan Tanaka dan menarik bagi saya adalah tentang kejujuran tubuh manusia dalam bergerak, baik dalam konteks tari maupun gerak keseharian, sehingga ekspresinya menjadi suatu hal yang "berbeda", unik, menarik, baru. Saya sendiri belum paham benar apa yang dimaksudkan Tanaka sebagai kejujuran itu. Namun lontaran itu menyeret saya kepada diskursus yang barangkali berbeda dan barangkali juga begitu dekat dengan yang dimaksudkan Tanaka. Diskursus yang saya maksud adalah tentang tubuh orang Hindu Bali dalam kaitannya dengan berbagai upacara serta seni yang menjadi keseharian – walau tidak semua – orang Hindu Bali.

Orang Hindu Bali memiliki konsep tentang bhuana agung dan bhuana alit, jagat besar dan jagat kecil, alam semesta dan tubuh manusia. Pola hubungan antara kedua jagat ini oleh orang Hindu Bali dibangun melalui sistem serta pola fisik dan transenden. Hubungan ini diciptakan untuk mencapai "kehidupan yang lebih baik", dengan kebutuhan duniawi sebagai pembenaran dalam hal hubungan fisik dan agama Hindu Bali sebagai pembenar hal transenden. Di samping itu, ada pula pembenar-pembenar lain yang digunakan, seperti keyakinan metafisik tertentu, filsafat lokal, ajaran lainnya serta seni.

Sistem-sistem hubungan itu yang didasari oleh keyakinan ditransmisikan secara turun-temurun lalu menjelma sebagai tradisi. Eksistensinya sebagai sesuatu yang telah mentradisi tidak serta merta memposisikannya sebagai sebuah ekspresi kejujuran bagi orang-orang yang melakukannya. Sebab dalam sebuah tradisi, unsur kolektif sangat kuat mengikat. Sedangkan kejujuran sendiri lebih merupakan hal yang individual.

Tubuh yang Diserahkan
Saya teringat Michel Foucault yang berbicara tentang kuasa-kuasa tertentu yang melakukan pengaturan terhadap tubuh individu. Misalnya, individu sebagai warga negara "menyerahkan" tubuhnya kepada kuasa pemerintah melalui kepatuhan terhadap berbagai hukum yang mengatur laku tubuh warga negara. Dalam hal ini tubuh individu diatur atau dibentuk sedemikian rupa, baik karakter maupun lakunya, agar sesuai dengan tata nilai tertentu yang dianut oleh suatu negara.

Dalam wilayah budaya Hindu Bali, sejak tubuh seseorang belum terlahir ke bumi, ia telah diperlakukan dengan upacara. Hal ini terus berlangsung hingga tubuh itu ditinggalkan jiwa dan akhirnya dimusnahkan sisi kebentukannya. Upacara demi upacara membentuk tubuh orang Hindu Bali dalam menapaki kehidupan, atau dalam lingkup waktu yang lebih kecil yaitu dalam hidup kesehariannya. Hingga ketika kematian pun upacara tetap berusaha memberikan "bentuk" terhadap tubuh itu.

Dengan demikian, orang Hindu Bali menyerahkan tubuhnya selama umur tubuh itu kepada upacara demi upacara yang dikonstruksi oleh ajaran agama yang sebelumnya telah – dianjurkan untuk – diyakini oleh orang Hindu Bali sendiri. Pembentukan itu, baik secara karakter fisik, psikis, maupun dalam hubungan transindividual, di satu sisi menempati posisi yang praktis dan verbal dalam keseharian. Di sisi lain pembentukan dilakukan untuk mewujudkan simbol-simbol tertentu yang menyangkut nilai-nilai keutamaan hidup. Hal ini memiliki pembenarannya dalam ajaran agama.

Kita lihat salah satu contoh dalam upacara mapandes atau masangih, misalnya. Dalam upacara ini orang Hindu Bali "menyerahkan begitu saja" tubuhnya, atau lebih spesifik giginya, terhadap upacara untuk dihilangkan bagian-bagian tertentunya. Ini merupakan salah satu bentuk penyerahan tubuh secara fisik terhadap upacara, di mana gigi orang Hindu Bali dikikir bagian-bagian tertentunya sehingga mengalami pengurangan dan mencapai perubahan bentuk tertentu.
Di samping pembentukan secara fisik, upacara mapandes juga turut membentuk tubuh orang Hindu Bali secara simbolik. Tubuh yang telah diserahkan terhadap upacara ini dikonstruksi sehingga tercipta simbol-simbol tertentu dalam tubuh itu sendiri, berkaitan dengan nilai-nilai seperti penghilangan kekuatan-kekuatan jahat atau hawa nafsu yang sebelumnya menguasai tubuh. Di sini pula tubuh diinisiasi menjadi suatu konstruksi yang melibatkan tingkatan kehidupan tertentu menurut agama, sehingga secara simbolik tubuh secara kompleks mengalami peningkatan taraf kedewasaan. Dalam konsep tentang kedewasaan ini sendiri ada nilai-nilai keutamaan yang harus diemban oleh tubuh.

Dalam ranah lain kehidupan orang Hindu Bali, ada pula seni sebagai pranata yang juga turut membentuk tubuh orang Hindu Bali. Berbeda dalam konteks upacara yang saya contohkan di atas, di mana tubuh dibentuk sesuai nilai-nilai ajaran agama, dalam pranata seni tubuh dibentuk untuk menuju apa yang dinamakan dengan tubuh estetis. Contoh mudah dalam kasus ini adalah dunia seni tari.

Seni tari di Bali, sebagaimana juga di belahan lainnya di dunia, mempunyai pakem dan nilainya tersendiri yang terejawantah dalam gerak dan simbol melalui media tubuh. Tubuh dilatih atau dibentuk untuk dapat mencapai taraf terampi yang ukuran nilainya adalah pakem dan simbol. Dengan seni tari, tubuh mengalami perubahan secara fisik dan dalam laku ketika menari tubuh juga diberikan beban simbol yang sekaligus di dalamnya terdapat makna dan nilai.

Keyakinan dan Kejujuran Tubuh
Seni tari dan upacara di Bali memang sudah menjadi tradisi. Dan tradisi selalu didasari oleh konsep yang tidak lain adalah suatu keyakinan. Konsep ditransmisikan secara turun-temurun melalui laku.

Pentransmisian kompleksitas laku tradisi secara turun-temurun kadang mengalami distorsi. Ada segi-segi yang hilang. Ini biasanya terjadi salah satunya ketika tradisi dikultuskan oleh orang-orang yang menghidupinya. Tradisi dimaknai hanya sebagai laku semata, yang harus dipraktikkan dalam keseharian, tanpa mengecek konsep apa sebenarnya yang mendasari, yang menjadi keyakinan, dari tradisi itu.

Ketika tradisi hanya laku, dalam arti tidak didasari dengan pemahaman terhadap dunia ide atau konsep yang mendasarinya, maka tradisi pun cuma rutinitas yang bebal dan kosong. Orang-orang yang mempraktikkannya hanya didasari oleh suatu stigma bahwa itu adalah kewajiban umat. Atau di sisi lain, dalam kerangka kolektivitas, tradisi dipraktikkan hanya untuk menjaga norma kesopanan antarsesama pewaris tradisi.

Tubuh pelaku tradisi pun menjadi tubuh yang buta dan tidak jujur ketika tradisi bukan lagi dipraktikkan atas dasar keyakinan akan konsep yang ada di balik laku yang dianjurkannya. Ini disebabkan karena tubuh itu tidak memiliki keyakinan dengan laku yang dipraktikkannya. Hal ini akan diperparah lagi ketika konsep atau keyakinan lain memasuki tubuh itu.

Bagi orang Hindu Bali, silakan tanyakan pada diri sendiri apakah tubuh Anda jujur mempraktikkan berbagai upacara atau seni yang selama ini ditradisikan?


Jogja, Oktober 2008

Seni dan Gengsi


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Ayo nyeni untuk nggaya!

"ORANG Bali tidak bisa melihat bidang kosong. Tangan mereka selalu gatal ingin mengukirnya." Ini hanya guyonan seorang teman. "Eda baang polos kéto. Payasin gigis gén." Ini saran seorang tetua ketika membangun tempat banten menjelang sebuah upacara di kampung saya.

Ada beberapa pernyataan analitis yang mengatakan bahwa perilaku seni orang Bali dapat dilihat dari hal-hal kecil dalam kesehariannya. Lihatlah, gagang pisau dapur yang tidak dibiarkan polos namun diisi sedikit cukilan motif sederhana, begitu juga dengan talenan kayu, atau perkakas dapur lainnya. Hal kecil ini akan menjadi demikian rumit ketika kita menilik berbagai jenis banten atau sarana upacara lainnya, namun tidak meninggalkan kesannya yang "kecil".

Bentuk-bentuk praktik kehidupan di atas mengindikasikan bahwa ada sisi-sisi estetis yang disertakan pada hal-hal yang fungsional dalam hidup keseharian. Nilai fungsional dan esetetis ini mewujud dalam suatu bentuk yang muaranya adalah memerankan kehidupan. Di sana bentuk itu menunggal, menjadi satu keutuhan, tidak tercerai berai oleh kungkungan pengkategorian. Sehingga dalam hidup keseharian orang Bali tidak ditemukan munculnya pretensi untuk membedakan hal mana yang memiliki nilai fungsional dan mana yang estetis. Bahkan barangkali orang Bali – tanpa pengaruh analisis dari ilmu – tidak mengetahui tentang kategori nilai tersebut.

Dalam penyikapan yang demikian, seni bukanlah suatu pranata yang mandiri. Ia adalah sesuatu yang "include". Bahkan penamaannya sebagai seni pun tidak ada – hal yang barangkali menyebabkan tidak adanya kosakata untuk menyebut kata "seni" dalam bahasa Bali. Ia hanyalah salah satu bagian dari sekian banyak modus pelakonan kehidupan, dari kompleksitas praktik kebudayaan, namun tidak serta merta kemudian dapat dihilangkan. Barangkali akan terjadi kecacatan pada modus pelakonan kehidupan jika ia dinihilkan, sebab dalam suatu titik ia adalah juga jiwa pelakonan hidup.

Namun pada akhirnya di Bali seni pun dipranatakan secara mandiri oleh orang Bali, walaupun masih ada beberapa yang berperan mendukung pranata-pranata kehidupan lain seperti upacara agama. Ketika hal ini terjadi, maka ada pretensi untuk menjadikan seni itu untuk seni semata, an sich. Ia kemudian mewujud menjadi bentuk-bentuk yang kita sepakati sebagai benda seni atau kesenian. Selanjutnya, di tangan orang-orang yang menghidupinya, yang oleh bahasa modern kemudian disebut seniman, ia punya potensi untuk menjadi sesuatu yang besar, sesuatu yang mengambil kapling cukup luas dalam ranah kebudayaan orang Bali.

Mengambil posisi sebagai sesuatu yang besar adalah merebut prestise. Dan prestise itu mahal. Anggapan umum mengatakan kemahalan sebagai kosekuensi logis dari perjuangan kerasnya untuk menjadi besar. Kemahalan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang mengatasi kemahalan itu sendiri. Peraihan terhadapnya adalah otomatis juga prestise bagi yang meraih atau menjangkau kemahalannya.

Maka seni tidak lagi milik semua orang. Ia bukan lagi milik dan ekspresi kolektif. Ia dibikin oleh individu, dibeli oleh individu, kadang bisa dinikmati secara kolektif. Namun penikmatan semacam ini tidak dengan serta merta membuat penikmat atau audiance-nya merasa memiliki seni itu karena kuasa diskursus tentang peraihan terhadap seni yang mahal seakan sudah diakui secara kolektif.

Lihatlah upacara-upacara besar yang diselenggarakan oleh sebuah keluarga, misalnya. Di sana, seni dijadikan sebagai legitimasi (kemewahan) penyelenggaraan upacara itu. Memang, ada beberapa seni yang digunakan sebagai legitimasi upacara tertentu, yang mana seni macam ini kemudian digolongkan sebagai seni wali atau sakral. Namun yang dimaksudkan di sini adalah seni-seni hiburan yang memang tidak diharuskan ada dalam suatu upacara. Seni semacam ini kemudian menjadi salah satu simbol dari unjuk kekayaan material dari pelaksana upacara. Ia menjadi prestise upacara, melahirkan nilai gengsi yang tinggi. Terjadi pergeseran, dari peraihan sebagai pengapresiasian atau penikmatan terhadap fungsi-fungsi seni menjadi pengambilan terhadap prestisenya semata.

Jogja, September-Oktober 2008

Tradisi yang Mencari Rumah di Jalanan


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Aku di jalanan,
maka aku ada.


BERIBU – bahkan mungkin berjuta – orang bisa menari Bali. Tapi, berapa yang bisa menarikan serta taksu-nya? (Mengadopsi perkataan Garin Nugroho dalam sebuah seminar di Yogyakarta: "Banyak orang yang bisa menari serimpi. Namun berapa yang bisa membawa mistiknya?")

Tradisi kehilangan kelanjutannya dalam konteks perubahan yang dibawa oleh generasi selanjutnya. Tradisi tidak diwariskan ke generasi selanjutnya, namun ditaklukkan dan diringkus untuk kemasan gaya hidup. Tradisi terancam kehilangan sejarahnya ketika politik identitas dikuasai gaya hidup. Demikian kata Afrizal Malna.

Banyak generasi mutakhir yang merasa mewarisi tradisi, namun sebenarnya hanya menguasai pada tataran teknis semata. Apalagi pewarisan itu dilakukan melalui sistem akademis yang sok menggunakan logika Barat, sehingga hal-hal yang bertentangan dengan logika ini dinafikan begitu saja. Hal ini menguntungkan di satu sisi. Di Bali misalnya, penguasaan terhadap tradisi, walau hanya dalam tataran teknis, adalah modal hidup yang cukup besar. Kekuatan-kekuatan yang tengah beroperasi di Bali, yang memiliki jaringan global, menghidupi tradisi yang demikian dengan semangat bisnis yang kuat.

Tradisi (Bali), ah, siapa yang merasa memilikinya sekarang? Semua orang Bali? Yang karena pengaruh gembar-gembor politik identitas (etnis-agama) terkejut dengan perubahan sosiokultural yang menekannya, kemudian mendadak bersikap memproteksi identitas diri, padahal tanpa sadar menjadi fundamentalis? Orang-orang yang pernah bersentuhan dan mempelajari tradisi Bali? Semua warga dunia? Karena globalisasi menghapus jarak ruang dan waktu yang dulu ada – sehingga kemudian orang California lebih lihai dan cerdas (!) menabuh gambelan Bali? Pengusaha pariwisata yang memang lebih sering menjual pernak-pernik tradisi Bali kepada wisatawan, seperti seorang petani yang menjual hasil panen lahannya sendiri? Atau cuma "orang-orang Bali" yang kini sudah malingga di mrajan atau sanggah?

Barangkali jawabannya adalah semua itu. Tapi kemudian siapa di antara semuanya benar-benar memiliki rumah untuk tradisi Bali dalam laku kehidupan sehari-harinya? Rumah yang bukan sekadar untuk berlindung dari cuaca atau singgah sebentar. Rumah yang benar-benar merupakan kompleksitas yang selalu memanggil untuk pulang. Rumah yang menjadi hulu sekaligus hilir pelakonan tradisi (baca: kehidupan). Rumah yang adalah sejarah tubuh pemiliknya.

Masalahnya sekarang tradisi tak (hanya) berada di rumahnya. Tradisi tidak lagi (cuma) di pura-pura, sanggar-sanggar tari, balé-balé banjar, ritual-ritual inisiasi, hari-hari raya, rerainan dan sebagainya ruang-ruang yang dulu menjadi rumah bagi tradisi. Juga tak lagi di tubuh-tubuh orang Bali yang dulu lebur dengan ruang-ruang itu dengan sublim. Secara fisik barangkali tradisi masih berada di ruang-ruang itu sampai sekarang, masih tampak lestari, tak kehilangan kemegahannya, bahkan kesakralannya.

Namun sejatinya, tradisi Bali kini tengah berada di jalanan! Dan jalanan itu lalu kita namai dengan kehidupan kontemporer.

Pergerakan tradisi di jalanan mempunyai kecepatan dan gaya yang berbeda. Ada yang jalan santai, berlari, tertatih, angkuh, angker, aéng, sempoyongan seperti orang mabuk, lenggak-lenggok karena jalanan baginya tak ubahnya catwalk, ada yang menjajali berbagai cara berjalan yang justru membuatnya sulit berjalan, ada yang tersungkur ketika baru memasuki jalan karena daya kejut jalanan menyerang jantungnya.

Di sana, di jalanan, praktik, intrik, politik, strategi diumbar. Kontestasi, promosi, negosiasi, lego digelar. Kepentingan, kepercayaan, kegembiraan, kepedihan, bahkan iman berseliweran. Kekacauan dan kedamaian seakan bisa melebur. Semuanya seakan ada di jalanan. Ya, karena memang ia disediakan sebagaimana sebuah pusat perbelanjaan serba ada yang dibangun untuk melayani nafsu konsumtif kita.

Di pinggir jalanan tumbuh ruang-ruang yang menawarkan rumah (baru) bagi tradisi. Rumah-rumah yang menjanjikan kehidupan – "yang lebih baik" – bagi tradisi ini dibangun oleh kekuatan-kekuatan besar dengan jaringan global yang kuat dan kompleks seperti industri pariwisata, di samping juga kekuatan-kekuatan lokal semacam pemerintah. Industri pariwisata dan pemerintah sebagai contoh rumah (baru) bagi tradisi menawarkan "kenyamanan" bagi tradisi, sebagaimana industri kompleks perumahan menawarkannya kepada para "tuna wisma".

Industri pariwisata menjamin kehidupan tradisi menjadi gemerlap, mewah, bisa kontes terus-menerus, kaya dan tentu saja berprestise tinggi. Tradisi di rumah industri pariwisata tidak perlu ribet dengan tetek bengek mistik dan taksu, tak perlu repot dengan pantangan-pantangan religi atau supranatural, tak usah lengkap genap dan berpanjang-panjang. Yang penting adalah kulit luar, performance yang eksotis dan memukau. Maka lahirlah kemudian performance (seni) tradisi yang gemebyar, singkat, menghibur dan mengutamakan kulit daripada isi.

Di sisi lain pemerintah menawarkan konsep tentang pelestarian tradisi dengan berbagai program (baca: proyek buat ngobyek). Di satu sisi konsep ini cuma menjadi retorika semata karena program yang formal dan jadi ajang ngobyek. Di sisi lain kantong-kantong (seni) tradisi memerlukan uang yang dikelola pemerintah untuk keberlanjutan kehidupannya. Tradisi kemudian menjadi salah satu media penyebar kuasa pemerintah. Lewat tradisi wibawa kuasa dikontestasikan. Tradisi di tangan pemerintah adalah "tradisi yang rapi", kehilangan keliaran dan daya imajinasi yang kadang memang di luar logika formal kekuasaan.

Di jalanan, tradisi kemudian tidak dihidupi oleh generasi pewaris yang independen. Ia tidak terlepas dari kekuatan-kekuatan yang beroperasi di jalanan. Tradisi tidak tercipta oleh kebutuhan akan aktualisasi diri generasi pewarisnya. Tradisi sedang mencari rumahnya di jalanan, dengan meninggalkan rumah lamanya yang rapuh. Tradisi jarang berusaha merekonstruksi rumah lamanya sehingga menjadi aktual dan memberi daya tawar yang kuat serta bersaing dengan jalanan beserta kekuatan-kekuatannya.

Tradisi mulai menemukan rumah barunya di jalanan. Pertanyaannya, adakah tradisi yang bergerak di jalanan itu mataksu? Mungkin jawabanya adalah ya: "taksu jalanan".

Jogja, Agustus 2008

Di Balik Topeng-topeng Bali


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Bukalah topengmu,
maka tak kubeli pariwisatamu.

Topeng-topeng itu menari, magis dan eksotis. Topeng-topeng itu mendekam di balik kain saput, misterius sekaligus sensasional. Topeng-topeng itu berdiam di tempat-tempat sakral. Topeng-topeng itu menghuni pasar. Topeng-topeng itu mengumbar lawakan di pentas seni rakyat. Topeng-topeng itu menjadi guide para wisatawan. Topeng-topeng itu menjual hiburan. Topeng-topeng itu bermain politik. Topeng-topeng itu menyicil prestise. Topeng-topeng itu berkonsolidasi. Topeng-topeng itu praktik intrik. Topeng-topeng itu membangun kuasa. Topeng-topeng itu adalah wajah Bali. Semua yang ada di Bali.

SUATU malam seorang pragina topeng menari di sebuah hotel, diiringi tabuh gong, ditonton para wisatawan. Ia benar-benar menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memukau sekaligus menawar kehausan wisatawan akan hiburan.

Tapi ia tidak sedang “menari sendiri” di sana. Di hotel – dalam konteks konstruksi besar pariwisata Bali – itu ia tidak murni digerakkan oleh energi kreasi seni yang pada satu sisinya memang bertujuan untuk menyuguhkan tontonan yang menghibur lalu untuk mendapatkan sedikit upah peluh. Ia sebenarnya tengah digerakkan oleh tenaga-tenaga yang jauh lebih kompleks, demikian besar, ruwet dan kerap kontradiktif. Kekauatan yang salah satu ikonnya adalah hotel tempatnya menari.

Dalam situasi yang demikian, energi kreasi seni, beserta kompleksitas spirit dan teknisnya, yang semestinya menggerakkan seluruh tubuh sang pragina untuk menari, mengalami degradasi nilai dan kemudian makna. Bentuk tarian topeng, termasuk berbagai pernik yang terindera ketika sang pragina menari menjadi simbol kekuatan besar sebagai hasil kontruksi penuh kontradiksi dan politik dari pariwisata.

Dunia pariwisata adalah dunia perdagangan, bisnis ekonomi, juga politik dan lahan perebutan kuasa dan prestise. Uang adalah tujuan di sini. Sehingga semua yang mau ambil bagian harus mampu “beradaptasi” dengan tujuan itu, kalau mau menuai hasil. Dan sebagai sumber utama uang tentu saja adalah para pembeli, para pelancong. Pembeli hanya akan membeli sesuatu yang diinginkannya, yang dibutuhkannya, yang menarik konstruksi seleranya. Maka “adaptasi” dimaksud adalah suatu pelayanan terhadap segala sesuatu yang dikehendaki oleh pembeli. Ini adalah hukum industri jasa yang sudah jamak, saya kira.

Banyak yang mengklaim – termasuk saya, barangkali – bahwa “adaptasi” semacam itu secara tidak langsung adalah pengikisan atau pendegradasian atribut-atribut, nilai-nilai, makna-makna juga bentuk-bentuk yang sebelumnya menjadi identitas atau bahkan iman bagi sesuatu yang diperdagangkan dalam industri pariwisata, seperti kesenian misalnya. Hal ini juga menjadi sorotan sebuah forum yang menamakan dirinya Kongres Kebudayaan Bali I di Agung Room Inna The Grand Bali Beach, Sanur, 14-16 Juni 2008. “Kenyataan menunjukkan, perkembangan pariwisata lebih menawarkan kepentingan pariwisata daripada kepentingan kebudayaan Bali sehingga menimbulkan krisis lingkungan, identitas dan krisis nilai-nilai budaya Bali. Untuk itu, semua komponen masyarakat Bali hendaknya kembali menguatkan identitas dirinya.” Demikian salah satu rekomendasi forum ini sebagaimana dilansir http://www.baliprov.go.id.

Benar saja ketika Putu Wijaya mensinyalir bahwa selama ini, sudah jatuh vonis, seakan-akan Bali hanya artis penghibur, bukan penyimak kehidupan. Menurutnya, ini adalah sebuah kesalahan yang memerlukan sebuah tindakan dan perjuangan agar terbukti dan bisa di terima oleh orang Bali sendiri. Bahwa Bali bukan hanya “menari”, tetapi juga berpikir.

Kenyataan empirik tersebut memang menjadi konsekuensi logis dari konstruksi industri “pariwisata budaya” yang kini menjadi lumbung besar Bali. Masalahnya adalah, apakah para desainer konstruksi ini dahulu menyadari akan konsekuensi ini, sehingga telah menyiapkan konstruksi antisipasinya? Jangan-jangan tidak tersadari? Atau mengambil langkah untuk menafikannya karena orientasinya memang pariwisata doang, tanpa keinginan untuk memelihara iman dasar barang dagangannya?

Kebudayaan – dalam arti sempit – sebagai barang dagangan industri pariwisata Bali saat ini mejadi kekaburan yang patut diprihatinkan. Secara wadag barangkali ia masih tampak demikian, sebagaimana awalnya, anggun, eksotis, magis, sakral, seakan tak terjadi apa-apa terhadapnya, terhadap jiwanya yang menggerakkan wadagnya. Bahkan, dengan narasi kuat yang dikonstruksi untuk pembangunan citra, seakan-akan ia tengah mengalami perkembangan yang demikian pesat yang positif.

Namun kita tidak tahu iman semacam apa yang ada di sebaliknya, bahkan untuk sajian-sajian seni pertunjukan yang ditujukan untuk ritual sekalipun, karena sekarang banyak yang ingin sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Sajian pertunjukan ritual sekaligus dijual kepada para wisatawan.

Kebudayaan – sekali lagi, dalam arti sempit – yang saya simbolkan sebagai topeng – maksudnya topeng-topeng yang lahir dari ranah seni pertunjukan tradisi Bali – bukan lagi menjadi kebudayaan yang beriman terhadap kebudayaan itu sendiri. Ia telah memiliki iman yang demikian kompleks dan kontradiktif. Iman ini adalah kumpulan kekuatan yang berada di baliknya, sebut saja di antaranya adalah pebisnis pariwisata, pemerintah, broker, kapitalisme, globalisme dan sedikit iman awal kebudayaan. Kekuatan-kekuatan inilah yang mengkonstruksi citra yang menunjukkan seakan-akan kebudayaan Bali tengah mengalami perkembangan yang demikian pesat dan positif.

Kekaburan kebudayaan Bali semacam inilah yang oleh Kongres Kebudayaan Bali I disebut “menimbulkan krisis lingkungan, identitas dan krisis nilai-nilai budaya Bali”. Namun forum ini ternyata agak keliru ketika memberikan solusi bahwa, “Untuk itu, semua komponen masyarakat Bali hendaknya kembali menguatkan identitas dirinya.” Yang ditekankan forum ini adalah masyarakat, suatu subjek pemilik kebudayaan yang sebenarnya dalam kasus ini adalah “korban”. Dengan solusi yang demikian, masyarakat diberikan beban ganda: hidup sebagai “korban” dan mesti mengatasi status tersebut sendirian. Yang ditekankan bukannya kekuatan-kekuatan yang berada di balik topeng-topeng kebudayaan Bali kini, yang semestinya memiliki orientasi utama kepada kebudayaan, bukan kepada pariwisatanya.

Hal tersebut juga tampak dalam tujuan pengadaan forum, yaitu “mengembangkan dialog budaya secara lokal, nasional dan internasional untuk membangkitkan kembali kesadaran, empati, dan apresiasi para budayawan terhadap kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia dan dunia”. Bukankah dalam keadaan hidup kebudayaan Bali mutakhir, dalam konteksnya dengan industri “priwisata budaya”, yang perlu dimunculkan kesadaran, empati dan apresiasinya terhadap kebudayaan, adalah – kembali – kekuatan-kekuatan yang berada di balik topeng-topeng kebudayaan Bali kini?

Jogja, Agustus 2008

Dari “Taksu” Tanah ke “Taksu” Parfum


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Pragina Bali tak lagi bau tanah, tapi bau parfum.
Menari di etalase. Yeah!

SAYA menonton lagi film La Isla de Bali, sebuah film dokumenter tentang Bali tahun 1930-1950-an. Saya menyaksikan lagi gadis-gadis Bali ketika itu menari lincah, garang, seakan melawan tabuh yang dilantunkan buatnya, seakan menantang penonton yang datang memirsanya. Di atas tanah berdebu, mereka benar-benar ber-taksu. Kostum, wajah dan kulit mereka, wah, berbau tanah, mengisyaratkan kedekatan mereka dengan tanah, simbol bagi budaya agraris, Ibu Pertiwi, kosmos orang Bali tradisional.

Itu tentu saja berbeda dengan tari dan penari Bali sekarang yang jauh lebih gemerlapan, tampak mewah, dengan warna-warna cerah, wajah dan kulit yang putih mulus – dekat sekali dengan model iklan pembersih wajah. Merka menari di tempat-tempat yang lux, panggung-panggung pertunjukan berlampu listrik dengan voltase besar, hotel, villa – dengan harum pewangi buatan – bahkan di dunia maya penuh prestise: televisi, video CD. Dan entah mengapa saya melihat yang sekarang ini lebih genit dan ada rasa rayuan. Tubuh mereka berbau parfum – salah satu produk khas Barat.

Saya tidak sedang – dan memang tidak ingin – membedakan keduanya melalui suatu ukuran kualitas yang hierarkis, atau malah ekstrem baik-buruk. Masing-masing punya kualitas dan logika kualitasnya tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan tolak ukur yang sama. Masing-masing memiliki orientasi dan tujuannya sendiri sehingga mereka memiliki pula "taksu" dan ukuran "taksu"-nya sendiri.

Sebuah deskripsi yang klasik memang bahwa orang Bali dulu menari untuk bakti dan ngayah, baik kepada Ida Betara maupun masyarakat, sehingga dengan demikian laku menari adalah sebuah laku tanpa mengaharap pamrih – kecuali kepuasan batin tertentu. Menari adalah laku upacara bersama, baik dalam konteks tari itu adalah wali (sakral), bebali (untuk ritual) atau balih-balihan (tontonan hiburan). Semua memiliki posisinya sebagai upacara, sebuah kebersamaan, guyub yang mengikat emosi individu-individu.

Namun demikian, saya ingin menilik hal ini bukan dari tari sebagai sesuatu yang suci, luhur, adiluhung dan nilai-nilai keutamaan lainnya. Saya ingin melihatnya sebagai sebuah cara untuk menyikapi konteks kehidupan ketika itu, yang mana memang berkutat pada tanah, budaya agraris adalah suatu medan kebudayaan yang melahirkan berbagai produk kebudayaan termasuk seni; dan membandingkannya dengan laku menari dalam konteks kehidupan mutakhir.

Ketika itu, ketika agraris adalah medan budaya bagi mayoritas orang Bali, tanah adalah sesuatu yang memiliki posisi sakral hingga profan sekaligus. Dalam hal sakral pun tanah masih memiliki perbedaan nilai atau kualitas keutamaan. Pada satu sisi tanah adalah simbol bagi Dewi Sri, dewi padi, dewi kesuburan, dewi kemakmuran, Ibu Pertiwi, junjungan para petani. Saya teringat kata-kata seorang rama Kristen yang bilang bahwa petani adalah sebuah profesi yang paling dekat dengan Tuhan. Di sisi lain tanah juga merupakan simbol kekuatan "jahat" semacam bhuta kala dan sebagainya. Persembahan berupa caru selalu mengarah ke bawah, ke tanah; berbeda dengan yang ditujukan kepada para dewa atau betara yang berorientasi ke atas, langit atau gunung.

Dalam hal yang profan pun demikian – walaupun kaitannya masih erat dengan yang sakral di atas. Tanah memiliki keutamaan, kemuliaan, sesuatu yang berharga ketika ia adalah sumber penghidupan secara fisik bagi orang Bali. Tanah adalah media bagi segala macam tanaman, segala sumber makanan. Di sisi lain tanah adalah tempat untuk membuang segala macam kotoran, bangkai, reged, leteh.

Masyarakat Bali tradisional memuliakan tanah dalam kedua unsur paradoksnya, dalam arti merangkul perbedaan dua hal yang berlawanan – barangkali sebagai pengejawantahan dari konsep rwabhinneda (dua hal yang berbeda dan berlawanan). Perilaku atau penyikapan yang cenderung sebagai penyakralan terlihat karena orang Bali memiliki pandangan yang menjunjung nilai keutamaan, sakral, suci, namun tidak melawan hal-hal yang punya nilai "bawah", seperti hal yang kotor, reged, leteh, bhuta kala. Kekuatan-kekuatan bernilai "bawah" tidak dikonfrontasikan dengan kekuatan-kekuatan yang dapat menimbulkan benturan atau tabrakan keras sehingga menimbulkan konsekuensi kalah-menang semacam perang, melainkan dengan nilai "halus". Segala kotoran, reged, leteh, diarahkan ke bawah, ke tanah, dengan berpegang pada kepercayaan tentang suatu proses penetralisiran, semacam pengembalian ke titik nol. Bhuta kala diberikan caru atau sesajen dengan berlandaskan pada sikap perangkulan, ajakan untuk hidup berdampingan, persaudaraan sebagai sesama isin gumi (isi bumi, segala yang ada di bumi). Ini barangkali yang menyebabkan mereka yang kurang paham kemudian menganggap orang Bali juga memuja kekuatan jahat semacam bhuta kala.

Demikianlah secara sederhana pandangan orang Bali tradisional yang melatarbelakangi laku menari mereka. Di dalamnya tersurat bagaimana orientasi laku menari yang dilakukan orang Bali. Tanah sebagai kosmos bukan harus dimintai pamrih, namun sebaliknya harus diberikan persembahan atau "sapaan" sebagai suatu timbal balik atas segala yang telah diberikannya pada manusia. Tanah adalah sumber taksu, bahkan taksu itu sendiri.

Di masa sekarang – yang katanya modern – punya orientasi yang berbeda. Kalau titik pembicaraan tidak saya geser dari masalah tanah, maka kita temukan orientasi yang berbeda pula dalam hal penyikapan serta perlakuan terhadapnya. Mau tidak mau ternyata harus diakui bahwa industrialisasi adalah salah satu (kalau tidak ingin menyebutnya sebagai satu-satunya) penyebabnya. Tanah dalam terminologi industri adalah kapital. Sebenarnya ini tidak jauh berbeda dengan pandangan orang Bali tradisional yang melihat tanah sebagai sumber kemakmuran. Namun dalam dunia industri, tanah tidak disikapi dengan holistik. Sisi sakralnya ditiadakan. Ia adalah modal yang dapat mendatangkan untung atau diperjualbelikan. Tanah semata material dan fungsional.

Industrialisasi terjadi dalam segala hal, sehingga segalanya memiliki peluang mengambil bagian di dalamnya, semuanya dapat dijadikan produk industri. Dalam logika yang demikian orang Bali menari. Maka tari pun adalah produk industri, dan ini tentu saja berpengaruh pada segala hal dalam laku menari. Ekspresi wajah, tipikal gerak, tampilan visual mengadopsi berbagai pernik industri. Bahkan tidak menutup kemungkinan taksu-nya pun adalah taksu industri. Taksu tanah sudah tidak bisa direngkuh (atau mungkin malu karena dianggap jadul?) karena ia telah direngkuh sedemikian rupa dan kuat oleh industri. Maka menarilah orang Bali dengan taksu parfum, salah satu simbol produk industri Barat. Pesona parfum adalah pesona tari Bali mutakhir, tidak terkecuali dalam beberapa kasus tari wali dan bebali.

Bali Tanpa Bali


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Judul: Bali Tanpa Bali
Penulis: Ibed Surgana Yuga
Penerbit: Panakom Publishing & Komunitas Kertas Budaya
Cetakan Pertama: 2008
Tebal: xvi + 164 hal.
ISBN: 978-979-1108-10-2

Saya ingin memandang Bali …. Ah, jangan-jangan ini hanya kerinduan cengeng – sekaligus menjengkelkan – bagi orang seperti saya, yang terlempar atau melemparkan diri sejenak dari wilayah geografis Bali. Saya bisa saja sok-sokan bersikap, sambil berpretensi memandang Bali dari luar Bali, padahal jangan-jangan Bali sama sekali tidak meninggalkan segores bekas tipis pun dalam diri saya. Atau bisa jadi saya cemburu karena apa-apa yang menjadi "mainstream" di Bali tak mampu saya jangkau. 

"Tajén", Orang Bali, "Calonarang" 
Lalu orang Bali? Hanya menikmati kekalahan di antara gemuruh arena tajén (industri pariwisata Bali). Setelah menikmati hasil penjualan manuk-manuk, yang ternyata tak seberapa, orang Bali mulai merengek-rengek pada pihak penyelenggara tajén untuk bisa masuk ke sana lagi, menjadi pedagang asongan atau sekadar tukang pasang taji bagi manuk-manuk yang akan diadu. Orang Bali hanya menjadi abdi-abdi (untuk tidak menyebut "babu") yang – dengan senjata kain pel atau sapu – memberi service terbaik untuk kesuburan ruang-ruang kapitalis di natah orang Bali sendiri. Orang Bali kemudian memberhalakan ruang-ruang tersebut – ruang-ruang yang sebelumnya pernah mengalahkan mereka.

Kisah Perlawanan (yang "Tunduk") terhadap Adat Bali
 Pada beberapa sisi, hukum adat dalam konstruksi masyarakat tradisi Bali kadang sangat kejam pada krama adatnya sendiri, namun luluh ketika dihadapkan dengan dunia luar, apalagi pada modernisme yang membawa industrialisasi – dan iming-iming materialisme, tentunya – sebagai anak kandungnya. Inilah yang menjadi inti kisah ironis dari Incest. Desa adat dengan kekuatan massa serta para pemucuknya sangat patuh terhadap awig-awig adat yang berlaku, demi memproteksi berbagai sisi kehidupan serta keberlangsungan hidup yang sejahtera bagi krama adat, serta menjaga keluhuran dan keajegan adat itu sendiri. Kepatuhan tersebut termasuk pada hal-hal yang – menurut pola pemikiran "masa kini" – "tidak relevan" lagi. Tidak mengherankan jika adat sering kali terlihat begitu kejam dan "tidak relevan" ketika menjatuhkan berbagai macam sanksi terhadap para krama-nya yang dianggap melanggar atau melawan awig-awig. 

"Méru" Satpam 
Sejarah polemik tentang "pelecehan" terhadap simbol-simbol yang dianggap suci dalam wilayah budaya dan agama Hindu Bali telah terbentang lumayan panjang. Beberapa yang pernah saya dengar, di antaranya kasus foto bola golf di atas canangsari, album Manusia Setengah Dewa Iwan Fals, sinetron Angling Darma, film Opera Jawa Garin Nugroho, penggunaan nama dewa dalam beberapa merek kendaraan bermotor, dan sebagainya. Menanggapi polemik seperti ini, orang Bali sendiri ada yang pro dan kontra. Ada yang beranggapan bahwa "pelecehan" semacam ini perlu "diberantas" semuanya. Yang lain mengklaim wacana seperti ini terlalu "nyinyir", bahkan dianggap terlalu mengeksklusifkan budaya dan agama Hindu Bali dari pergaulan budaya dan agama lain.

Cenk Blonk sebagai Simbol 
Eksplorasi yang dilakukan Cenk Blonk tentu saja memunculkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, seperti "pengingkaran" terhadap pakem wayang kulit Bali. Dalam beberapa hal, rupanya Cenk Blonk memilih untuk mendobrak pakem-pakem tertentu guna meloloskan berbagai hasil eksplorasinya. Bagi saya, praktik "pengingkaran" pakem ini bukanlah perkara baru dalam ranah seni tradisi. Ini bahkan sering kali menjadi "keniscayaan" ketika sebuah genre seni berhadapan dengan produk-produk budaya lain yang menjadi tanda mutakhir zamannya. Di balik "pengingkaran" itu saya membaca suatu simbol bagi "pengingkaran pakem kehidupan" tradisi tertentu. Dalam tataran wacana, ini merupakan wacana bagi realita kehidupan aktual yang mesti "menengok kembali" berbagai "pakem kehidupan" yang telah mentradisi, di mana "pakem kehidupan" yang telah usang dan tidak relevan lagi bagi persaingan kehidupan kontemporer suatu zaman sudah waktunya untuk dimuseumkan atau diinterpretasi ulang. Ia hidup sebagai filter bagi pola laku dan pikir warisan tradisi, guna mengkonstruk lagi pola laku dan pikir yang up to date bagi zaman mutakhir.

Bahasa Bali yang Jauh
 "Punapi gatra, Gus?" Duh! Tiba-tiba saya merasa asing dengan sapaan itu. Bukan saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi karena yang mengucapkannya adalah seorang teman akrab, walau telah beberapa tahun kami tidak berjumpa. Terhadap sapaan itu saya hanya menjawab, "Béh! Kéné-kéné dogén uli pidan. Sing taén berkembang." Ketika bertemu dan ia mengucapkan sapaan itu, saya merasa ada kadar yang berkurang pada keakraban persahabatan kami yang sudah bertahun-tahun berjalan. Padahal baru saja saya ingin menyambutnya dengan keakraban (baik dalam berbahasa maupun bersikap) yang biasa kami lakoni ketika sering bertemu dahulu. Percakapan demi percakapan terus berlangsung, dan ia tetap saja menggunakan basa Bali alus. Perlahan, bukan hanya kadar keakraban yang terasa memudar. Teman saya telah menjadi sosok asing di depan saya, seperti seseorang yang baru saja kenal dan entah datang dari mana.

"Nawegang antuk Linggih" 
Dengan pemaknaan terhadap dua narasi sejarah yang berbeda (katakan saja demikian), keduanya memiliki dan mengamalkan pembenarannya masing-masing. Kedua narasi sejarah itu pun tak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia Bali karena keduanya merupakan lintasan sejarah yang membangun manusia Bali sekarang, terlepas dari seberapa besar perannya masing-masing. Masalah muncul ketika ada laku "pengkultusan" terhadap salah satu sistem yang dilakoni guna meraih status tertentu dalam konstelasi kehidupan sosiokultural dan sosioreligius, yang mana status tersebut mengandung prestise tertentu pula. 

Orang Jembrana 
Kisah "orang-orang terbuang" dan perambahan hutan di atas menambah ketegasan bahwa karakter keras dan kuat memang dimiliki oleh orang Jembrana, yang secara kesejarahan merupakan endapan dari karakter orangorang yang dicap pembangkang, penentang, pembelot, pemberontak. Lalu ditambah lagi dengan ritual perambahan hutan dalam membuka lahan tempat tinggal dan pertanian yang harus dilakoni dengan mengalahkan keangkuhan pohon-pohon besar, menaklukkan kebuasan dan keliaran rimba, merebut Jimbarwana. Semuanya memerlukan karakter fisik dan jiwa yang keras dan bedu.

Bali Tanpa Eksotika
 Namun, ketika orang luar Bali kemudian memasuki lingkungan budaya orang Bali, yang melakukan penilaian terhadap kosmologi Bali, dan mengutarakan hasil pandangan atau penilaiannya itu kepada orang dalam atau luar Bali, mulailah lahir "Bali yang eksotis". Salah satu realisasinya adalah berbagai narasi tentang Bali dalam brosur-brosur pariwisata di luar negeri serta berbagai karya etnografi. Orang Bali kemudian terpengaruh oleh penilaian ini. Dalam bahasa saya, orang Bali "disadarkan untuk menilai" laku budayanya sendiri melalui kacamata lain, bukan kacamata yang sebelumnya digunakan sebagai "orang dalam yang taat". Orang Bali "disadarkan" bahwa Bali memiliki eksotika. Di sisi lain, "kesadaran" ini digunakan oleh pihak tertentu di Bali untuk menyulut semacam sikap "kebalian" (identitas?) bagi orang Bali sendiri. Dan sebagaimana yang kita lihat sekarang, banyak orang Bali yang gegap gempita, bahkan sesumbar, dengan "kebalian"-nya. 

Menengok "Paon" 
Dari ketiga jenis kehilangan itu, yang paling tidak bisa "ditemukan" lagi adalah kehilangan secara kultural. Walau kemungkinannya masih bisa, namun manusia-manusianya yang telah berpikiran modern tentu akan menganggap itu sebagai suatu kemunduran peradaban, tidak efisien, dan sebagainya. Kehilangan secara kebendaan sebenarnya masih bisa "ditemukan" lagi lewat museum-museum atau kolektor barang antik atau dari tinggalan-tinggalan leluhur yang glantak-glénték tak terhiraukan. Sedangkan kehilangan secara historis masih bisa didengar lewat cerita-cerita para orang tua atau tulisan-tulisan. Hanya saja, sekali lagi, sejarah itu tidak teralami lagi. Lalu, apakah ini sebuah kesalahan? Apakah ini suatu sikap yang tidak menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang? Saya selalu curiga terhadap klaim "tidak
menghargai" dan "tidak melestarikan" warisan nenek moyang. Jangan-jangan, anggapan ini lahir dari cara pandang yang keliru.

Kolektivitas Cap "Suryak Siu"
 Di Bali saat ini, praktik suryak siu bukan hanya terjadi dalam skala kecil seperti pada kasus yang saya contohkan di awal tulisan ini. Ia tidak hanya bergerak pada lingkungan banjar saja, namun telah menjadi semacam gerakan menyeluruh masyarakat Bali. Kita lihat misalnya sekarang ini di Bali berkembang sebuah wacana tentang konsep identitas kebalian yang disebut Ajeg Bali. Ajeg Bali ini muncul dari figur yang "patut digugu dan ditiru". Entah siapa figurnya. Media massa lokal yang sekarang berkembang di Bali adalah salah satu "kulkul" yang menyuarakan wacana ini, untuk kemudian dilaksanakan oleh krama "banjar" Bali. Maka, jadilah segalanya sesuatunya seakan dilakukan demi Ajeg Bali, tanpa penelusuran lebih jauh tentang konsep macam apa sebenarnya Ajeg Bali itu. Inilah salah satu perilaku suryak siu yang sekarang tengah berkumandang di Bali. Sebagaimana perilaku suryak siu yang saya contohkan di awal tulisan ini, suryak siu krama "banjar" Bali ini pun memiliki dua posisi paradoks.

Humor di Pentas Seni Bali 
Seakan ada semacam "tata hierarki peran" yang diberlakukan dalam dunia pentas ini, bahwa yang berhak berhumor-ria, ngaé bebaudan, ndagel di atas panggung hanyalah tokoh parekan, yang notabene adalah wakil dari wong cilik. Tokoh lainnya, apalagi berasal dari kelas atas, harus tampil agung, berwibawa, serem, aéng, serius. Ini barangkali lahir dari kondisi sosial, terutama dalam konstruksi masyarakat berstratifikasi, bahwa kalangan atas harus selalu tampil santun, formal, menjaga sikap, menjaga prestise sebagai kelas masyarakat terhormat, sebagaimana pengamatan Clifford Geertz dalam Negara Teater. Sedangkan rakyat kecil boleh berbuat dan ngomong seenak wudel.

Upacara, Mitos, Bali 
Upacara di Bali terus berkembang hingga sampai pada satu titik di mana ia diposisikan sebagai semacam kewajiban bagi umat Hindu Bali. Agamalah yang melembagakannya sehingga posisi wajib ini tercapai. Maka jadilah semacam peraturan mutlak tentang upacara. Hari ini harus diadakan upacara ini dengan sesajen ini dan mantra ini serta dilakukan oleh ini. Hal ini bukanlah masalah ketika telah didasari oleh kesadaran yang saya uraikan di atas. Namun ketika kewajiban itu hanya dipandang sebagai kewajiban semata, tanpa dirunut kenapa ia diwajibkan, maka muncullah mitos baru tentang upacara, yang kemudian menjelma menjadi dasar pelaksanaan upacara. Landasannya di sini bukan lagi kesadaran berupacara. Segalanya berjalan sebagai suatu rutinitas kosong yang tentu saja kemudian hanya menghambur-hamburkan uang. Inilah suatu bentuk kebutaan dalam berupacara, suatu rutinitas ritual tanpa pemaknaan. 

Eksotika yang Ajeg
(Jejak Kuasa dalam Politik Kebudayaan) 
Wacana Sela I Ngurah Suryawan
Beragam fenomena yang terjadi di Bali pasca Bom Bali I dan II seolah menyiratkan munculnya kembali rasa sentimen kedaerahan, dan dalam hal ini ke-Bali-an berdasarkan agama Hindu. Dasar sentimen itulah yang menjadi benih dari gerakan-gerakan fundamentalis, seperti juga yang terjadi dalam agama Islam, Kristen, dan lainnya. Terorisme sebagai cermin fundamentalisme yang identik dengan Islam kini menemukan konteks dan makna baru di Bali, yaitu "teorisme budaya" dalam bentuk Ajeg Bali dan Ajeg Hindu. 

"Nak Bali Apa Sing Bisa Ngigel!" 
"Orang Bali ya? Coba matanya digini-giniin," pinta seseorang kepada teman saya sambil menggerak-gerakkan bola matanya, bermaksud meniru sledétan penari Bali. "Saya enggak bisa nari," kata teman saya, seorang gadis Bali yang kini kuliah di Jogja. Lalu orang itu beralih pada saya. "Coba kamu," katanya meminta saya melakukan hal yang sama. "Saya lahir di Bali, tapi enggak bisa nari Bali," jawab saya. Orang itu terdiam sejenak. Ada keheranan di raut mukanya. Barangkali dalam hati ia berkata, "Kok ada, ya, orang Bali tidak bisa menari?" 

Bali dan Tubuh Perempuan 
Pada masa itu, figur perempuan Bali telanjang dada adalah gambaran dari kehidupan sosial pedesaan Bali. Barangkali kita bisa membaca bahwa di balik figur perempuan telanjang dada itu tercermin kepolosan, tradisi berbau tanah, kesederhanaan (atau penyikapan secara sederhana) budaya keseharian, atau bahkan kemiskinan (ekonomi). Mereka sangat jauh dari kebaya yang pada saat itu mulai dipandang sebagai salah satu bentuk kesopanan oleh kaum menengah ke atas yang mengenyam bangku sekolah. Dada perempuan ketika itu barangkali bukan suatu daya tarik seksual bagi laki-laki. Bukankah dengan demikian orang Bali zaman dulu bahkan lebih bisa menempatkan konteks seksual dalam kehidupan sehari-hari mereka? Telanjang bulat bersama di sungai barangkali bukan suatu suasana yang dapat menarik hasrat seksual.

Hari Raya yang Hilang 
Ketika mulai tinggal di Jogja, tepatnya sejak pertengahan 2003, saya tidak punya hari raya lagi. Saya selalu bilang begitu pada teman-teman saya. Pernyataan ini memang ada nada bercanda, dan awalnya saya memang bermaksud bercanda. Namun sering kali teman-teman saya menanggapinya serius. Dan lebih sering lagi, saya sendiri yang menganggapnya serius karena bagaimana pun juga apa yang saya katakan itu, yang bagi beberapa orang yang taat agama adalah tabu, memang saya alami dan rasakan.

Menghidupi Seni Bali
 Tidaklah mengherankan jika kemudian lahir masyarakat pendukung pada masing-masing produk seni. Dengan kata lain, muncul praktisi seni khusus untuk pariwisata, khusus festival, khusus partai politik tertentu dan sebagainya. Semuanya akan melahirkan kehidupan seni Bali yang spesifik, "produk seni kepentingan", yang – sekali lagi – lepas dari baik dan tidaknya kualitas masing-masing. Lalu, siapakah yang punya andil besar, siapakah yang berwenang, siapakah yang berjasa, siapakah yang idealnya menghidupi seni di Bali? Ternyata bukan jubelan pertanyaan ini yang mesti dijawab; namun untuk apa sebenarnya seni Bali dihidupi sekarang?

Dusun, Daun Pisang, HP
 Mobil-mobil pick up itu masuk ke jalanan dusun yang sebelumnya belum tentu dijejaki ban mobil dalam sebulan sekali. Mereka "mengekspansi" dusun. Mereka merintis pengajaran "pengantar ilmu berdagang" kepada dusun. Mereka mengajarkan bagaimana persaingan pasar, bagaimana mengemas barang dagangan sehingga punya daya tawar – walau masih dalam taraf yang begitu sederhana. Mereka memberi "penyadaran" kepada orang dusun yang "terbelakang", bahwa di sekitarnya bergelimpangan berbagai potensi ekonomi yang seakan berebut mengacungkan tangannya, minta secepatnya diubah menjadi uang. Mereka mengajar dusun untuk mengukur segala sesuatunya dengan rupiah. Mereka mengajar dusun menjadi "materialistis".

Rare Angon 
Ah, itu hanya sebuah dongeng. Barangkali ia tak perlu bahasan seruwet yang saya lakukan di atas. Dongeng hanya imajinasi dari ruang "dahulu kala" yang kabur. Hanya kisah pengantar tidur yang dipuja-puja ketika kanak-kanak, perlahan dilupakan ketika remaja, kadang dikenang ketika dewasa, dan tak pernah diceritakan lagi kepada cucu ketika usia tua. Dongeng adalah masa kanak-kanak yang penuh "kebohongan". Tapi, masa kanak-kanak kita belajar dari "kebohongan" itu – walau kemudian disangkal di masa-masa selanjutnya. Konon, "kebohongan" itu penuh dengan ajaran-ajaran tentang kebajikan. Di sana, dalam dongeng itu, kanak-kanak kita menjelajahi kompleksitas kehidupan melalui "dunia lain". 

Telanjang
 Budaya Bali, hingga sekarang, masih menyisakan karakter telanjang, baik secara fisik maupun filosofis. Perlu cara pandang tertentu untuk meniliknya. Kemiskinan dan iklim yang sering dijadikan asalan kenapa perempuan-perempuan Bali dahulu telanjang dada dalam kesehariannya agaknya harus dipandang dengan cara yang berbeda agar tak melulu berhenti pada taraf alasan. Kemiskinan dan iklim mestinya dipandang sebagai keniscayaan alam dan sosial yang kemudian membentuk konstruksi budaya Bali. Tak perlu ada semacam permakluman dalam hal ini. Sebab kalau memposisikannya sebagai permakluman, kita tengah terjebak ke dalam pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses panjang pembentukan budaya Bali. Sekali lagi, mesti diakui sebagai keniscayaan. Bukankah kita tidak pernah bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita? 

Pentas Itu Bernama "Tajén"
 Dalam satu segi tajén punya persamaan dengan upacara-upacara yang dilakoni oleh orang Hindu Bali. Keduanya sama-sama merupakan "kesekejapan" yang teaterikal. "Kesekejapan" muncul ketika peristiwanya berlangsung, ketika eksekusinya. Sebagaimana menyiapkan sarana upacara, ayam jantan disiapkan dengan begitu tekun oleh bebotoh. Segalanya diperhitungkan dengan teliti: melik, kebugaran fisik, déwasa yang baik untuk mengadu, serta dengan ayam jago macam apa ia harus diadu, dan sebagainya. Pokoknya, bebotoh begitu meting-meting ayam jagonya agar bisa mapalu dengan tangkas di arena tajén. Hingga tiba saatnya ia diadu, dan hanya ada kemungkinan menang dan kalah. Setelah itu, selesai. Begitu sekejap. Peristiwanya tidak bisa diulang. Jika kalah, ia mati dan jadi bé cundang. Jika menang, ia harus dipersiapkan sedemikian rupa lagi, dengan perhitungan yang pelik, untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Tajén memang sebuah upacara.

Memupuk Pohon Mitos 
Justru semakin banyaknya orang yang berpikiran modern dan individualis itulah yang kian menyuburkan pohon mitos. Lahirnya berbagai interpretasi dari orang-orang yang berpikiran modern merupakan satu penyebab kerindangan tersendiri karena tidak pernah ada massa yang menyatakan persetujuan secara bersama terhadap hasil interpretasi itu. Ia (interpretasi itu) hanya menemukan persetujuannya dalam pola pikir interpretatornya sendiri. Inilah ciri pemikiran modern yang individualis. Interpretasi-interpretasi itu berkumpul jadi satu – tanpa menemukan banyak pendukung, dan jarang bisa disamakan – menciptakan kerindangan yang hebat pada pohon mitos. Hal ini belum lagi ditambah oleh penalaran fundamentalis terhadap mitos serta berbagai interpretasi yang menggunakan pemikiran di luar modern. 

Nyepi Kampus 
Nyepi Kampus barangkali meniru penyelenggaraan acara Dharma Santi Nasional yang biasanya diselenggarakan setelah Nyepi. Beberapa kali memang Nyepi Kampus di kampus saya membawa embel-embel "Dharma Santi Kampus". Apa tujuan penyelenggaraan Dharma Santi Nasional, yang biasanya dihadiri presiden dan pejabat negara lainnya itu, saya tidak tahu persis. Namun dalam sambutannya pada Dharma Santi Nasional dalam rangka Nyepi Saka 1929, Pak Presiden SBY menyatakan, Dharma Santi Nasional sebagai wujud silaturahmi umat Hindu bertujuan untuk memuliakan mahluk hidup dan meningkatkan kesetiakawanan sosial. Rupanya, 24 jam dalam Nyepi yang sepi di luar dan riuh di dalam itu belum cukup untuk sekadar mewujudkan kesadaran untuk bersilaturahmi, bahkan antarumat Hindu sendiri, sehingga acara seremonial (!) semacam Dharma Santi Nasional perlu diadakan. Dan acara seremonial yang melibatkan pejabat biasanya jauh dari jangkauan masyarakat biasa (baca: umat).

"Gesah" PKB 
Pesta Kesenian Bali (PKB) tidak habis dibicarakan. Dan sepertinya akan selalu begitu. Pembicaraan tentangnya bukan sekadar warna atau bumbu di antara setiap tahun penyelenggaraannya, di antara sekian banyak macam kesenian yang dipestakannya. Kalau mau mempertahankan eksistensi PKB, salah satunya, ya, dia harus dibicarakan. Diwacanakan. Terus-menerus. Tidak peduli wacana yang positif atau negatif, membangun atau tidak, memuja atau memaki. Yang penting wacana, kritik, gesah. Dua macam wacana yang paradoks akan sama derajatnya dalam menunjang eksistensi PKB. Layaknya selebriti layar kaca, ia akan makin tenar dan dicari karena gemilang dalam bermain sinetron maupun gemilang dalam berselingkuh. Itulah ajaibnya dunia wacana. (Tapi ingat, PKB bukanlah pemain sinetron!) 

PAST
Dalam hemat saya, keberadaan PAST di Jembrana pada satu sisi memikul tanggung jawab – walau secara formal tidak ada yang memberinya tanggung jawab – bagi terciptanya kehidupan yang kondusif bagi seni kontemporer pada umumnya, sastra dan teater pada khususnya. Jembrana – yang konon – sebagai salah satu barometer kehidupan sastra dan teater kontemporer di Bali mesti dibuktikan dalam tataran praksis, bukan hanya dalam wacana. Di sisi lain, ada semacam ketakutan eksistensial yang melingkupi PAST. Ia menjelma dari (bayang-bayang) narasi kebesaran masa lalu tentang eksistensi seni kontemporer (atau sering disebut: modern) yang pernah hidup di Jembrana. Ketakutan ini bisa jadi merupakan ketakutan menjadi kecil, hilang atau gagal menyambung tali dengan sejarah masa lalu. Wacana yang mencuat tentang kebesaran masa lalu, di samping merupakan pembuktian tentang akar yang kokoh, secara ironis sebenarnya juga menjadi retorika nostalgik di tengah kondisi mutakhir yang barangkali sedang tidak kondusif, mandeg, fakum atau mati suri. 

Bali Tanpa Bali
Proyektor itu memantulkan gambar idoep ke selembar kain putih sekitar 2 X 3 meter yang tertempel di tembok. Frame demi frame gambar beringsutan selama kurang-lebih lima puluh menit di sana, mendongeng tentang hamparan sosiokultural sebuah wilayah di Bali. Namun di sana hampir tidak bisa ditemukan gambaran tentang Bali sebagaimana yang ditemui di televisi atau brosur pariwisata. Hanya beberapa detik saja melintas foto penari legong, figur gadis Bali tempo dulu yang telanjang dada, serta bangunan pura. Selebihnya adalah gambaran sepasang kerbau yang lari dengan beringas dalam makepung; tangkas para penabuh jegog; kendang raksasa dalam gamelan kendang mabarung; penari pencak silat yang berkostum mirip pemain stambul; penari leko yang sekilas tampak cuma meniru kostum penari legong; para nelayan Slam di daerah pesisir Jembrana; orang mengambil wudhu dan shalat; kebaktian di gereja yang diikuti para jemaah berpakaian adat Bali; khotbah pendeta ber-basa Bali alus, dengan beberapa kali ucapan puja kepada Sang Hyang Yesus Kristus; rumah panggung Melayu-Bugis; orang-orang yang berbicara dengan "bahasa aneh" – campuran bahasa Bali, Melayu dan Jawa; anak-anak muda latihan teater kontemporer dan musik puisi; berita-berita tentang berbagai kegiatan seni kontemporer; dan sebagainya yang jauh dari gambaran (stereotip) tentang Bali.