Mengurai (Lagi) Adat-Agama di Bali


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Ternyata Bali belum menemukan
definisi yang solid tentang agama,
adat dan budayanya!

KONON, manusia Bali memiliki spirit dalam hubungan sosial berupa (slogan!) asah-asih-asuh, salunglung sabhayantaka, paras-paros sarpanaya. Semuanya merupakan suatu bentuk hubungan positif antarmanusia, yang memiliki kedekatan dengan (sekali lagi: slogan!) gotong royong, toleransi, tenggang rasa, simbiosis mutualisme kemasyarakatan. Hal ini sering disebut sebagai kejeniusan lokal Bali yang bernilai luhur yang muaranya adalah ajaran agama. Konon lagi, leluhur manusia Bali mewariskan banyak kejeniusan lokal yang dapat menuntun pengembangan sikap toleransi, tenggang rasa dan menyelesaikan setiap permasalahan dengan semangat kekeluargaan. Sekali lagi, ini konon!

Lalu ketika berbagai kasus kekerasan, anarki, destruktif terjadi di Bali dan dilakukan oleh manusia Bali sendiri, kearifan lokal yang bernilai luhur itu dikalim telah memudar dengan pemicunya adalah gesekan kepentingan-kepentingan antarindividu atau antargolongan tertentu. Dalam hal ini, institusi adat sering diklaim sebagai kuda tunggangan bagi kepentingan-kepentingan tersebut.

Kemudian muncul saran agar manusia Bali kembali ke ajaran agama, memberi perimbangan antara artha dan kama dengan dharma dan moksa. Beragama di Bali memang tidak bisa dipisahkan dengan beradat, demikian pendapat salah satu penyaran itu. Namun ia menyarankan agar manusia Bali paham mana yang dimaksud ajaran agama dan mana adat. Saran ini menganjurkan manusia Bali mampu membedakan keduanya dari segi ajaran, yang secara tidak langsung mensyaratkan suatu pemisahan antara adat dan agama – hal yang kontradiktif dengan pernyataan awalnya.

Saran selanjutnya adalah meninggalkan berbagai anasir adat yang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman dan juga yang bertentangan dengan ajaran agama. Dalam hal saran ini dapat dilihat "perseteruan" antara agama dan adat di Bali yang konon tidak bisa dipisahkan itu. Bayangkan, ada perseteruan dalam satu tubuh yang solid, bukan dipicu oleh hal di luar tubuh itu, namun karena tubuh itu sendiri! Menurut yang disarankan di atas, "perseteruan" agama dan adat mensyaratkan pemenangan terhadap agama dan pengalahan serta konsekuensi peninggalan terhadap beberapa anasir adat.

Fenomena memuarakan berbagai masalah sosial dan budaya kepada agama dan secara tidak langsung memposisikan agama sebagai pemenang seperti di atas menggiring ingatan terhadap berbagai fenomena konflik di negeri Indonesia mutakhir. Pantat Inul dimuarakan ke agama, RUU APP dimuarakan ke agama, karya-karya seni yang katanya "erotis" dimuarakan ke agama. Seakan agama merupakan satu-satunya sistem yang sah dalam kehidupan manusia Indonesia. Seakan agama adalah satu-satunya lembaga kebenaran.

Membandingkan fenomena di Bali dan Indonesia ini ditemukan kemiripan modus pengklaiman. Apakah wilayah budaya Bali mengalami keterpengaruhan diskursus pemecahan masalah dari negara Indonesia? Bali yang gencar melakukan penolakan terhadap RUU APP dengan alasan budaya ternyata melakukan modus yang serupa dengan yang dilakukan di sebalik penyusunan RUU APP itu. Ternyata Bali belum menemukan definisi yang solid tentang agama, adat dan budayanya!

Muncul kecurigaan kemudian tentang pencitraan agama dan adat yang sulit dipisahkan di Bali. Jangan-jangan ini sekadar pencitraan olahan "Adobe Photoshop", bukan pencitraan "fotografis" melalui kamera yang berdasarkan realitas empirik. Dan jangan-jangan di balik pencitraan ini ada kepentingan-kepentingan tertentu yang ada hubungannya dengan citra stereotip Bali yang aman, nyaman, religius, eksotis dan sebagainya. Jika ini benar, bukankah di sini terletak kepentingan individu atau golongan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang diklaim sebagai pemicu berbagai kasus kekerasan dan destruktif di Bali?

Jika masih ada "perseteruan" antara adat dan agama, dengan mudah ditarik kesimpulan bahwa agama dan adat itu tidak (selamanya) sejalan. Ada benturan-benturan di antara keduanya yang memicu konflik kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bahwa adat dan agama di Bali memiliki kebenarannya masing-masing, yang barangkali beberapa di antara ada yang sejalan dan ada pula yang berseberangan. Jika benar demikian, bukankah penyatuan atau pencitraan tentang keduanya yang sulit dipisahkan atau dibedakan merupakan sesuatu yang muluk-muluk?

Mengenai kasus-kasus bernuansa adat yang kerap terjadi akhir-akhir ini di Bali (walaupun belum jelas apakah itu memang benar masuk dalam kategori masalah adat atau masalah antarindividu atau antargolongan yang diadatkan), bahkan di saat hari suci Nyepi, konon harus dicari akar permasalahannya untuk memudahkan pencarian solusinya. Akar permasalahan macam apa yang harus dicari sebenarnya? Akar masalah orang-orang yang berseteru? Masalah adat? Masalah agama? Atau malah akar kesalahan definisi dan interpretasi? Antara adat dan agama, yang mana sebenarnya sumber dari yang mana? Yang mana memberi pengaruh bagi yang mana? Atau keduanya memiliki sumber berbeda yang sebelumnya tidak punya sejarah keterpengaruhan?

Mengenai adat yang konon tidak sesuai dengan semangat zaman dan harus ditinggalkan bukan lagi cuma benturan adat dengan agama, namun juga dengan globalisasi yang membawa ilmu dan pengetahuan Barat (modern) yang sangat mengagungkan rasionalisme – hal yang banyak sekali pertentangannya dengan anasir-anasir adat Bali. Diakui atau tidak, manusia Bali sering gagap berhadapan dengan modernisme. Kiblat terhadapnya, atau paling tidak pemungutan beberapa pandangannya yang sekiranya cocok, berkonsekuensi terhadap peninggalan atau pembuangan beberapa anasir adat dan budaya Bali.

Adat dan budaya Bali memiliki logika tersendiri yang tentu saja berbeda – dalam banyak hal, bahkan – dengan logika modernisme. Logika adat dan budaya Bali inilah yang mesti ditelusuri terlebih dahulu, dipahami bagaimana modus operasinya sehingga ia telah demikian lama membentuk dan menghidupi manusia Bali. Di dalamnya, tidak dapat dihindarkan, akan ditemukan mitos-mitos yang beroperasi, yang dengan sadar atau tidak, telah menjadi bagian dari tubuh manusia Bali. Strukturalisme Lévi-Strauss memberi resep yang jitu dalam hal penggalian logika-logika di balik mitos-mitos yang beroperasi pada budaya suatu masyarakat.

Jogja, Mei 2008

1 komentar:

Anonim mengatakan...

lyworstapakah perbedaan adat bali dengan agama hindu? sebab, menurut penilaian saya bahwa agama hindu adalah ajaran agama yang mengajarkan nilai2 luhur seperti tri sandya, ahimsa, tatwam asi, dll. sedangkan kalau adat, adalah pelaksanaan upacara seperti mebanten, odalan, dll. mohon pencerahannya...

Poskan Komentar