Jepun


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Keharuman nan eksotis
dari kwangén 
hingga tongos meju!

DIGUYURI gerimis, seorang perempuan tua memunguti jejatuhan bunga jepun (kamboja), lalu mewadahinya dengan tas kresek warna hitam. Ia ditolong hujan karena guyuran air dari langit itu menggugurkan lebih banyak bunga. Awalnya saya kira bunga-bunga jepun itu digunakan untuk banten. Tapi saya ragu karena bunga yang sudah kecoklatan pun dipungutnya serta. Usut punya usut, bunga-bunga itu akan dijemur hingga kering dan dijual kepada para pengrajin dupa. Harganya lumayan, bisa mencapai Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- per kilogram.

Jepun memang punya prospek bisnis yang besar. Bukan hanya bunganya yang masih segar saja yang punya nilai ekonomi, yang sudah kering juga. Apalagi pohonnya, wah, saya sering terkejut-kejut mendengar tetangga saya menjual pohon jepun yang lumayan berumur dengan harga jutaan. Bunga dan daun jepun juga menjadi inspirasi desain berbagai produk kerajinan seperti vas bunga, keramik, lukisan atau pernik-pernik hiasan lainnya.

Prospek bisnis yang dicapai jepun barangkali tidak bisa dilepaskan dari pencitraannya dalam industri pariwisata Bali. Entahlah, siapa yang pertama kali mencitrakannya. Yang jelas, jepun – terutama bunganya – telah terkonstruksi sebagai salah satu ikon Bali di mata dunia, di samping sekian banyak ikon yang digunakan untuk mengidentifikasi Bali – terutama untuk menunjuk sisi eksotika. Di dunia industri pariwisata, jepun menempati posisi-posisi pengindah, penambah eksotis, berbagai sudut eksterior maupun interior villa, hotel, bungalow, juga di meja makan restoran, spa, kolam renang, bahkan toilet. Para turis juga pasti lebih merasakan eksotika bunga jepun ketika ia dikalungi rangkaian bunga ini atau ketika merasakannya terselip di kuping.

Secara otomatis semuanya mendongkrak popularitas jepun sebagai ikon Bali. Maka kemudian, jepun adalah Bali. Melihat jepun, dunia digiring ingatannya kepada Bali – bukan kuburan-kuburan di Jawa yang memang dipenuhi pohon jepun. Karakteristik bunga jepun adalah karakteristik Bali: indah, eksotis, harum, segar, sakral dan sebagainya.

Sebagai ikon Bali, posisi jepun tidak hanya berhenti pada penyaji eksotika semata. Ketika popularitasnya sebagai ikon Bali sudah mapan, ia kemudian dikonstruksi secara sengaja atau tidak – salah satunya – untuk memikul sebuah ide besar: spirit Bali. Ia seakan adalah metafora dari kosmos Bali, baik secara fisik maupun kejiwaan. Dengan demikian jepun mampu berbicara kepada dunia tentang kosmos Bali, sehingga mampu menarik empati serta simpati dunia. Lihatlah ketika Bali dianggap goyah karena ledakan bom (walaupun anggapan ini sangat lemah dan gegabah karena tidak keseluruhan Bali merasakan kehancuran akibat ledakan bom, bahkan sampai perlu diselenggarakan ritual Pamarisudha Karipubhaya segala – barangkali ini hanya konstruksi wacana dunia industri pariwisata semata), ada sebuah gerakan yang bertitel Bali for the World yang konon bertujuan untuk mengembalikan situasi Bali setelah ledakan bom. Sehelai bunga jepun nangkring pada logo titel gerakan ini, ikut menarik kepedulian dan dukungan dunia dalam mengembalikan Bali seperti sebelum ledakan bom.

Di samping itu, popularitas jepun juga dimanfaatkan sebagai semacam "ikon keberuntungan". Banyak yang menggunakannya sebagai penanda atau nama sesuatu untuk menciptakan daya tarik dari sesuatu itu. Lihatlah begitu banyak badan usaha, mulai dari toko, agen travel, hotel, villa, bongalow, spa, resort, restoran, art shop, dan masih banyak lagi yang menggunakan jepun sebagai namanya.

Terangkatnya jepun sebagai ikon Bali maupun prospeknya dalam segi bisnis di luar pariwisata sepertinya juga menyertakan pertimbangan kualitas jepun sendiri. Dari segi kebentukan, bunga jepun sebenarnya sangat sederhana: tidak berbeda dengan bentuk stereotip bunga, lima helai warna putih dengan sedikit gradasi kuning, tanpa putik maupun benang sari. Namun jumlah helai mahkota bunga jepun yang umumnya lima itu memberikan keindahan tersendiri – konon yang ganjil itu indah. Masalah aroma, bunga jepun memang khas. Kesegaran bunga jepun yang tidak tahan lama juga memunculkan daya tarik tersendiri – ingat, banyak hal yang memiliki sifat kesementaraan atau kesekejapan menjadi unik dan diburu.

Pohon jepun juga memiliki bentuk yang khas dan lumayan unik. Lekukan-lekukan yang tercipta pada batang pohon jepun menciptakan garis-garis lengkung yang cukup dinamis, tidak kaku, namun terkesan sangat kokoh ketika didukung oleh bentuk serta teksturnya. Beberapa pematung juga mengakui bahwa kayu jepun memiliki bentuk yang menarik. Keunggulan pohon atau kayu jepun juga didukung oleh pertumbuhannya yang lamban sehingga mendukung kesan kelangkaannya.

Menurut sebuah sumber, jepun dikatakan memiliki nilai filosofi tersendiri jika dikaitkan dengan budaya Hindu Bali. Jepun berbunga pada sasih kartika atau sasih kapat, sebuah hitungan bulan dalam kalender Bali yang dianggap sebagai bulan yang baik. Bunga jepun secara filosofi diartikan sebagai bunga yang membawa pencerahan. Ini barangkali yang membuat bunga jepun menjadi salah satu jenis bunga yang baik untuk sarana upacara.

Berbicara tentang upacara, jepun pada awalnya barangkali bisa dilihat dari keberadaannya yang tidak bisa dipisahkan dari ritual manusia Hindu Bali. Pohon jepun banyak ditemukan di halaman pura, sebuah posisi yang secara praktis memudahkan umat memperoleh bunganya jika hendak sembahyang di pura itu. Bunga jepun juga kita temukan menghiasi gelungan serta rambut para penari Bali, atau berbagai tata rias tardisional Bali. Lalu bunga jepun menghias berbagai pernik industri pariwisata, seperti kamar, front office, lobi, meja makan, hingga toilet. Betapa, jepun menempati posisi yang lintas ruang, dari yang sakral hingga profan, dari tempat sembahyang hingga tongos meju!

Jepun memang tidak lagi hanya "milik" Bali. Ia telah menjadi milik dunia – walau tetap untuk mengidentifikasi Bali. Masalah "milik" ini bukan saya maksudkan untuk memperkarakan hal kepemilikan yang lebih berasosiasi kekolotan atau fundamental. Saya lebih ingin menunjukkan bahwa jepun telah menempati posisi yang mengglobal, menjadi milik semua orang, sebagaimana Coca Cola, KFC, McDonald’s, atau sebagaimana yang tersirat dalam titel gerakan Bali for the Wolrd yang saya singgung di atas. Dan konon, jepun memang bukan tanaman asli Indonesia. Ia berasal dari Amerika Tengah, seperti Equador, Colombia, Cuba, Venezia dan Mexico.

Posisi jepun yang telah menjadi milik semua orang – katakanlah sebelumnya ia adalah milik Bali – tentu tidak lepas dari timbulnya berbagai konsekuensi serta ekses negatif bagi Bali sendiri, sehingga tidak menutup kemungkinan melahirkan suatu ironi bagi manusia-manusia Bali tertentu. Mengenai hal ini, Putu Fajar Arcana dalam sebuah cerpennya menggunakan bunga jepun sebagai metafora yang apik untuk mengungkap sisi ironi manusia Bali yang muncul akibat industri pariwisata.

Jogja, Desember 2007

0 komentar:

Poskan Komentar