Dari Politik Pan Belog ke Politik Pan Balang Tamak


Oleh: Ibed Surgana Yuga

Para caleg dan partai politik berhati-hatilah!
Rakyat sekarang tak bodoh, tapi banyak akal.

TUDUHAN terhadap partai politik yang tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat tidak sepenuhnya benar. Partai politik telah mendidik rakyat tentang makna politik sebagaimana yang dipraktikkannya. Buktinya kini, di tengah masa kampanye yang demikian panjang, beberapa partai politik lewat caleg-calegnya tengah menyusur hingga ke jalan-jalan becek tak beraspal di pelosok desa. Mereka menjajakan nomor dan nama sambil secara tidak langsung mendidik rakyat di sana, tentu saja dengan manufer yang jitu dan telah jadi tren: money politic!

Kondisi di atas memunculkan kecenderungan bahwa kini pemilu bagi sebagian besar rakyat bukan lagi suatu keagungan mimbar guna menyuarakan cita-cita keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Oleh partai politik, rakyat kini telah dididik untuk memaknai pesta politik – terutama masa kampanye – sebagai mimbar untuk saling berbagi. Ya, saling berbagi kucuran materi dari para caleg, cagub, cabup atau partai politik. Jadi tidak salah ketika rakyat sebuah desa di pelosok Jawa Tengah dalam masa kampanye Pilgub Jateng lalu mengeluh, “Kok sepi ya? Nggak ada yang bagi-bagi beras kayak dulu.”

Begitu pula di sebuah banjar di pelosok utara Jembrana. Ketika beberapa caleg masuk menawarkan bendera dan wajahnya yang tersenyum santun, masyarakat banjar itu pun cerdik. Mereka seakan dengan otomatis membelah jadi beberapa kelompok, kemudian masing-masing mendekati satu caleg, tepatnya mendekati isi kantongnya. Dari proses pendekatan ini terlihatlah hasil kecerdikan rakyat. Jalan-jalan tak beraspal yang sebagian besar konturnya curam dan selalu becek saat musim hujan, sehingga tak bisa dilewati sepeda motor, mendapat “sumbangan” pembetonan, walau sekadar sejalur sepeda motor. Demikian pula sekaha angklung bisa menambal kekurangan beberapa instrumen dengan “bantuan” kocek para caleg.

Pan Belog sudah Jadi Pan Balang Tamak 

 Setelah belajar dari sekian banyak pengalaman pilbup, pilgub dan pemilu, masyarakat tak lagi menjadi Pan Belog yang selalu kabelog-belog. Rakyat bilang, “Bukan saatnya lagi kita diperdaya!” Kini saatnya rakyat nyalanang daya, seperti Pan Balang Tamak yang terkenal sing kuangan daya. Ya, karena politik praktis di Indonesia sekarang adalah daya (bahasa Bali), dayan partai politik. Karena kini, menurut Goenawan Mohamad, orang memandang politik dengan cemooh. Partai-partai berpura-pura menja­lankan politik, namun sejatinya mereka melecehkan politik itu sendiri sebagai sesuatu yang layak diremehkan.

Maka jangan heran kalau kini senjata utama seorang caleg adalah kalkultor. Hari-harinya dipenuhi dengan kesibukan menekan-nekan tombol kalkulator, karena di matanya rakyat memang deretan angka-angka, bukan suara-suara pengharapan tentang masa depan. Kalkulator para caleg menghitung berapa rupiah untuk berapa peluang contrengan pada nomor atau namanya nanti.

Melihat kecenderungan yang telah berlangsung lama itu, walau tak punya kalkulator, rakyat yang telah menjadi Pan Balang Tamak pun nyalanang daya: siapa yang pegang caleg ini untuk “bantuan” membeton jalan di sebelah sana, siapa pegang caleg itu untuk “sumbangan” penambah instrumen angklung yang belum lengkap, dan seterusnya. Setelah lama diangkakan, rakyat kini malah akrab dengan angka-angka. Dengan cerdik rakyat mengatur siasat, walau banyak dari mereka yang belum mengambil sikap mau memilih yang mana saat pemilu nanti. Siasat mereka untuk membelah jadi beberapa kelompok yang seolah-olah memberikan dukungan pada caleg masing-masing merupakan sikap politik rakyat yang nyalanang daya sekaligus madadayan.

“Daya”: Akal dan Kehati-hatian 

Kata “daya” dalam bahasa Bali merupakan istilah yang cukup tepat untuk menyebut makna “politik” dalam kondisi Indonesia sekarang. Jika ditelusuri lebih mendalam, “daya” memiliki makna yang tunggal. Namun dalam perkembangan kebahasaan Bali, terutama ketika berurusan dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia, paling tidak ia mempunyai dua makna: akal (misal: jlema sing kuangan daya – manusia tidak kekurangan akal) dan kehati-hatian (misal: dayanin majalan apang sing labuh – hati-hati berjalan agar tak terjatuh). Dalam konteks tertentu, kedua makna ini bisa menjadi dua kekuatan yang paradoksal: kehati-hatian untuk menangkal akal lawan, dan akal pun bisa jadi merupakan alat untuk mengelabui kehati-hatian lawan.

Dalam konteks politik Indonesia yang sedang kita bicarakan, “daya” dengan kedua maknanya telah lama jadi senjata partai politik dan kaki-tangannya untuk meluncurkan manufernya dalam menarik coblosan rakyat. Berbagai akal, yang telah tak bersekat lagi dengan makna tipuan, diberlakukan melalui berbagai program, janji serta strategi politik yang hasilnya telah kita tahu bersama. Dalam menjalankan akal ini, partai politik pasti menerapkan kehati-hatian yang cukup rigid agar akalnya tidak menjadi bumerang atau bocor ke partai politik lain.

Dan kini rakyat pun menciptakan senjata dua makna “daya” itu. Ketika rakyat telah mengetahui bahwa program dan janji partai politik adalah pepesan kosong belaka, sekadar manifestasi dari dayan atau akal-akalan partai politk, maka menerjemahkan politik pada makna sebenarnya adalah sia-sia belaka. Rakyat kemudian melawan akal itu dengan akal pula. Di sini politik seakan menjadi medan tempur terselubung antara partai politik dengan rakyat. Caleg yang kampanye dengan duit diakali rakyat agar duit itu mengucur sebanyak-banyaknya untuk kepentingan rakyat, baik secara personal maupun komunal. Masalah contreng-mencontreng saat pemilu, itu perkara nanti. Berkhianat pun bukan masalah lagi, karena pengkhianatan juga adalah bagian dari ilmu akal partai politik yang kemudian diajarkan kepada rakyat.

Jika politik daya Pan Balang Tamak memang menjadi pilihan atau strategi dari rakyat, untuk menghindari kabelog-belogin buin, maka rakyat harus menerapkan ilmu daya dalam makna kehati-hatian, terutama dalam tataran horisontal. Berbelah menjadi beberapa kelompok untuk mendekati caleg yang berbeda, untuk “melayani” akal money politic mereka, harus dimaknai sebagai keterbelahan untuk akal semata, keterbelahan yang pura-pura, hanya daya. Ini harus dipegang teguh. Adalah kebodohan yang terulang jika keterbelahan ini menjadi sumber konflik sebagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya. Kehati-hatian diperlukan agar tak larut dalam emosi keterbelahan yang sebenarnya diciptakan sebagai kesemuan belaka. Sebab, sekali lagi, politik di Indonesia sekarang hanyalah semu semata. Nihilisme yang merayap dan mengambil tempat dengan tenang, kata Goenawan Mohamad.


Pancaseming, Desember 2008

0 komentar:

Poskan Komentar